Bab 1: Islam Masa Rasulullah dan Khulafaur Rosyidin

BAB I
ISLAM MASA RASULULLAH DAN KHULAFAUR ROSYIDIN

A. Kebudayaan Masyarakat Makkah Sebelum Islam
Para ahli sejarah menyebut masa sebelum kehadiran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw sebagai masa jahiliyah. Secara bahasa masa jahiliyah berasal dari kata jahil, yang diturunkan dari kata dasar Arab jahala yang berarti bodoh.
Bangsa Arab sebelum Islam sudah mengenal dasar-dasar beberapa cabang ilmu pengetahuan, bahkan dalam hal seni sastra mereka telah mencapai tingkat kemajuan pesat. Negeri Arab adalah sebuah Semenanjung di ujung Barat Daya Benua Asia. Di sebelah Utara berbatasan dengan Syam, Palestina, dan al-Jazirah. Di sebelah Selatan berbatasan dengan Teluk Aden dan Samudra India. Di sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Oman dan Teluk Persia; dan di sebelah Barat berbatasan dengan Selat Bab Al-Mandib, Laut Merah dan Terusan Zues.
Keadaan Arab khususnya daerah Makkah terdiri atas gurun pasir yang panas dan gersang. Hal ini mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat Makkah sehingga tercermin dalam kehidupan sosial budaya mereka. Orang-orang Makkah dikenal sebagai bangsa pengembara yang nomaden. Mereka sering berpindah pindah dengan mengandalkan kendaraan yang berupa unta dan kuda.
Kebiasaan mengembara membuat orang-orang Arab Makkah senang hidup bebas tanpa aturan dan hukum yang dapat mengikat mereka sehingga mereka menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan. Mereka senang hidup mengelompok yang tergabung dalam kabilah atau suku yang sangat banyak jumlahnya.
Kekuatan, keperkasaan, keuletan dan keberanian merupakan modal utama untuk dapat bertahan di alam gurun pasir. Mereka tidak menyukai anak-anak wanita karena wanita dinilai makhluk lemah, tidak mampu berperang, dan tidak kuat melakukan pekerjaan yang berat. Seakan suatu bencana besar dan sebagai aib jika tidak mempunyai anak laki-laki.
Namun, selain memiliki watak, perangai, dan perilaku keras, penduduk arab mempunyai jiwa seni sastra yang tinggi, terutama dalam bentuk syair dan sajak. Kepandaiannya dalam mengubah sajak atau syair merupakan kebanggaan orang Arab. Para penyair kenamaan sangat dikagumi dan dihormati.
Dari segi keyakinan, bangsa Arab pada masa jahiliyah terbagi menjadi beberapa 
golongan:
1. Golongan yang mengingkari Sang Pencipta dan hari kebangkitan. Mereka percaya bahwa alam, masa, dan waktulah yang membinasakan segalanya seperti yang termaktub dalam QS. Al-Jaatsiyah (45) : 24.
2. Golongan yang mengakui adanya Tuhan, tetapi walaupun mengakui adanya Tuhan, namun mengingkari adanya hari kebangkitan, seperti yang termaktub dalam QS. Qaaf (50) : 15.
3. Golongan yang menyembah berhala, biasanya masing-masing kabilah memiliki berhala sendiri-sendiri. Kabilah Kalab di Daumatul Djandal misalnya, mereka mempunyai berhala Wad, kabilah Huzdail mempunyai berhala Suwa‟ Kabilah Madzhaj dan kabilah-kabilah di Yaman semuanya menyembah Yaghuts dan Ya‟uq, Kabilah Tsaqif di Thaif menyembah Latta, Kabilah Qurays di Kinanah menyembah Uzza. Kabilah Aus dan Khazraj menyembah Manat, dan sebagai pemimpin dari semua berhala adalah Hubal yang ditempatkan di samping sisi Ka‟bah.
4. Golongan yang lain adalah golongan yang cenderung mengikuti ajaran Yahudi, Nasrani, dan Shabiah, ada pula yang menyembah malaikat atau jin.
Label jahiliyah yang diberikan kepada bangsa Arab pra Islam, bukan berarti tidak ada kebaikan sama sekali dalam kehidupan mereka. Bangsa Arab masih memiliki akhlak-akhak mulia dan budaya positif yang menyejukkan dan menakjubkan akal manusia. 
Diantara perkembangan kebudayaan masyarakat Arab pra Islam :
1) Tradisi keilmuan 
Bangsa Arab pra Islam telah mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, terbukti dengan dikembangkannya ilmu astronomi yang ditemukan oleh orang-orang Babilonia. Ilmu Astronomi ini berkembang di Arab setelah bangsa Babilonia diserang oleh Bangsa Persia kemudian mengenalkan ilmu astronomi ini kepada orang-orang Arab pada masa itu. Selain astronomi mereka juga pandai dalam ilmu nasab, ilmu rasi-rasi bintang, tanggal-tanggal kelahiran dan ta‟bir mimpi.
2) Berdagang
Masyarakat Arab yang tinggal di perkotaan atau disebut ahlul-hadar, mereka hidup dengan berdagang. Kehidupan sosial ekonominya sangat ditentukan oleh keahlian mereka dalam berdagang. Mereka melakukan perjalanan dagang dalam dua musim selama setahun, pada musim panas pergi ke Negeri Syam (Syiria) dan pada musim dingin mereka pergi ke negeri Yaman. Pada masa itu sudah berdiri sebuah pasar yang diberi nama pasar Ukaz. Pasar Ukaz dibuka pada bulan-bulan bertepatan dengan waktu pelaksanaan ibadah haji, yaitu; bulan Dzulkaidah, Zulhijjah dan Muharam.
3) Bertani
Masyarakat Arab yang tinggal di pedalaman yaitu masyarakat Badui, mata pencahariannya adalah dengan bertani dan beternak. Kehidupan mereka nomaden, hidup mereka berpindah-pindah dari satu lembah ke lembah yang lain untuk mencari rumput bagi hewan mereka. Masyarakat yang hidup di daerah yang subur, mereka bercocok tanam dan hidup di sekitar oase seperti Thaif. Mereka menanam buah-buahan dan sayur-sayuran.
4) Bersyair
Pasar Ukaz tidak hanya menyediakan barang dagangan berupa perniagaan dan kebutuhan sehari-hari saja, tetapi juga pagelaran kesenian seperti qashidah-qashidah gubahan sastrawan Arab. Syair menjadi salah satu budaya tingkat tinggi yang berkembang pada masa Arab pra Islam. syair juga dapat menjadikan seseorang atau kabilah tertentu menjadi kabilah terbelakang atau kabilah yang terhormat. Syair menjadi masalah mafakhir (kebanggaan) mereka dalam kehidupan sosialnya.Selain bersyair, mereka juga terbiasa menuliskan kata-kata hikmah dalam setiap bangunan agung yang mereka dirikan untuk dijadikan peringatan dan diambil hikmahnya bagi generasi selanjutnya. Orang Arab saat itu berloba-lomba dan membanggakan sikap dermawan. Separuh syair-syair mereka diisi dengan pujian dan sanjungan terhadap kedermawanan.
5) Menghormati Tamu
Kehidupan sosial bangsa Arab pra Islam terkenal pemberani dalam membela pendiriannya, mereka tidak mau mengubah pendirian yang sudah mengakar dalam kehidupan mereka. Salah satunya adalah menghormati dan memuliakan tamu, menghormati tamu adalah bagian dari menjunjung tinggi sikap dermawan yang mereka miliki, mereka berlomba-lomba untuk memuliakan tamu dengan segala harta benda meraka.Bangsa Arab pra Islam rela untuk berkorban harta bendanya hanya untuk memuliakan tamu. Pernah ada seorang laki-laki yang kedatangan tamu di rumahnya, sementara dia tidak memiliki apa-apa selain onta yang menjadi tumpuan hidupnya. Ia rela menyembelih untanya hanya demi untuk menjamu tamunya.
6) Menepati Janji
Bagi orang Arab, janji adalah hutang yang harus mereka bayar. Melanggar janji adalah aib bagi hidup mereka, bahkan dalam sebuah kisah Hani bin Mas‟ud bin Mas‟ud asy-Syaibani hanya demi sebuah janji mereka rela membinasakan keturunan mereka dan menghancurkan rumah.

B. Strategi Dakwah Rasulullah Saw Periode Makkah
1. Dakwah Sembunyi-Sembunyi
Rasulullah Saw memulai dakwahnya secara sembunyi-sembunyi, menyeru manusia untuk beriman kepada Allah Swt, menganut agama Tauhid dan mengenalkan bahwa Tuhan itu satu, yaitu Allah Swt. Dakwah secara sembunyi-sembunyi ini dilakukan untuk menghindari munculnya gejolak yang sangat mungkin terjadi di kalangan masyarakat. Beliau memulai dakwah kepada keluarga dan karib kerabatnya. 
Beliau mengetahui bahwa orang Quraisy sangat terikat, fanatik, dan kuat mempertahankan kepercayaan jahiliyyah. Dakwah secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama 3-4 tahun.Empat tahun pertama merupakan masa Rasulullah Saw mempersiapkan diri, menghimpun kekuatan dan mencari pengikut setia. Seiring dengan itu, wahyu yang turun pada masa itu secara umum bersifat mendidik, membimbing, membina, mengarahkan dan memantapkan hati dalam rangka mewujudkan kesuksesan dakwahnya. Rasulullah Saw dibekali dengan wahyu yang mengandung pengetahuan dasar mengenai sifat Allah Swt dan penjelasan mengenai dasar akhlak Islam. Selain itu, wahyu saat itu sebagai bantahan secara umum tentang pandangan hidup masyarakat jahiliyyah yang berkembang saat itu.
Orang pertama yang menyatakan keislamannya (Assabiqunal Awwalun) adalah :
a. Khadijah (istrinya)
b. Ali bin Abi Thalib
c. Zaid bin Haritsah (anak angkatnya)
d. Abu Bakar (sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak)
e. Ummu Aiman (pengasuh beliau sejak masa kecil)
Melalui Abu Bakar, pengikut Rasulullah Saw bertambah, mereka adalah :
a. Abd Amar bin Auf (kemudian berganti nama menjadi Abdur Rahman binAuf)
b. Abu Ubaidah bin Jarrah
c. Usman bin Affan
d. Zubair bin Awwam
e. Sa‟ad bin Abi Waqas
f. Arqam bin Abi Al Arqam
g. Fathimah bin Khattab
h. Talhah bin Ubaidillah dan sebagainya.
2. Dakwah Terang-terangan
Tiga tahun lamanya Rasulullah Saw berdakwah secara sembunyi-sembunyi di rumah sahabat Arqam bin Abi Al Arqam. Penduduk Makkah banyak yang sudah mengetahui dan mulai membicarakan agama baru yang beliau bawa. Mereka menganggap agama itu sangat bertentangan dengan agama nenek moyang mereka. Pada waktu itu turunlah wahyu yang memerintahkan kepada beliau untuk melakukan dakwah secara terbuka dengan terang-terangan kepada seluruh masyarakat. Allah Swtberfirman dalam QS. Al-Hijr (15) : 94.
Dengan turunnya ayat tersebut, Rasulullah Saw. mulai berdakwah secara terang-terangan. Dakwah ini membuat seorang tokoh Bani Giffar yang tinggal di Barat Laut Merah menyatakan diri masuk Islam. Ia adalah Abu Zar Al-Giffari. Atas perintah Rasulullah Saw kemudian Abu Zar Al-Giffari pulang untuk berdakwah di kampungnya. Sejak itulah banyak orang yang masuk Islam berkat Abu Zar Al-Giffari. Melalui cara itu pula, Bani Daus juga masuk Islam. Orang pertama Bani Daus yang masuk Islam adalah Tufail bin Amr ad Dausi, seorang penyair terpandang di kabilahnya. Dengan demikian, Islam mulai tersebar di luar Makkah.
Keberhasilan Rasulullah Saw dalam berdakwah mendorong kaum kafir Quraisy melancarkan tindakan kekerasan terhadap beliau dan pengikutnya. Di tengah meningkatnya kekejaman pemimpin kafir Quraisy, Hamzah bin Abdul Muthalib danUmar bin Khattab, dua orang kuat Quraisy masuk Islam. Hal ini membuat kaum kafir Quraisy mengalami kesulitan untuk menghentikan dakwah Rasulullah Saw.
Suatu ketika, Rasulullah Saw melakukan dakwah secara terbuka di Bukit Shafa dengan memanggil semua suku yang ada di sekitar Makkah. Untuk mengetahui apa yang akan disampaikan Muhammad, semua suku mengirimkan utusannya. Bahkan Abu Lahab, paman beliau pun hadir bersama istrinya (Ummu Jamil).Rasulullah Saw berseru, : ”Jika saya katakan kepada kamu bahwa di sebelah bukit ada pasukan berkuda yang akan menyerangmu, apakah kalian percaya ?”. Mereka menjawab, : ”Kami semua percaya, sebab kamu seorang yang jujur dan kami tidak pernah menemui kamu berdusta”.Rasulullah Saw kemudian berseru kembali, : ”Saya peringatkan kamu akan siksa di hari kiamat. Allah Swt menyuruhku untuk mengajak kamu menyembah kepada-Nya, yaitu Tuhanku dan Tuhanmu juga, yang menciptakan alam semesta termasuk yang kamu sembah. Maka tinggalkanlah Latta, Uzza, Manat, Hubal dan berhala- berhala lain sesembahanmu”. Mendengar seruan tersebut Abu Lahab mencaci maki seraya berkata, : ”Hari ini kamu (Muhammad) celaka. Apakah hanya untuk ini kamu mengumpulkan kami semua ?”.
Selanjutnya Rasulullah Saw termenung sejenak memikirkan reaksi keras dari kaumnya yang menentang dakwahnya. Kemudian, turun wahyu yang menerangkan bahwa yang celaka bukanlah beliau, tetapi Abu Lahab sendiri. Allah Swt berfirman dalam (QS. Al-Lahab [111] ayat : 1-5).
Setelah peristiwa di Bukit Shafa tersebut, para pemimpin Qurays bereaksi dengan melakukan sebagai berikut :
a. Mendatangi Abu Thalib, paman yang mengasuh Rasulullah Saw. Mereka meminta Abu Thalib untuk mencegah kegiatan dakwah yang dilakukan keponakannya, tetapi tidak berhasil.
b. Kaum kafir Quraisy mengutus Walid bin Mughirah dengan membawa seorang pemuda untuk ditukarkan dengan Muhammad Saw. mereka akan bangkit memerangi Rasulullah Saw.Ancaman keras ini nampaknya berpengaruh pada diri Abu Thalib. Lalu ia memanggil ponakannya untuk berhenti dari dakwahnya. Namun, Rasulullah Saw tetap tegar dan menolak permintaan pamannya dengan berkata, : “Demi Allah Swt, biar pun matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan menghentikan dakwah agama Allah Swt ini hingga agama ini menang atau aku binasa karenanya”.Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Rasulullah Saw meninggalkan Abu Thalib seraya menangis. Abu Thalib memanggilnya kembali, seraya berkata, “Wahai anak saudaraku ! Pergilah dan katakanlah apa yang kamu kehendaki (dakwah). Demi Allah Swt, aku tidak akan menyerahkanmu kepada mereka selamanya”.
c. Mengutus Utbah bin Rabi‟ah, seorang ahli retorika untuk membujuk Rasulullah Saw. Mereka menawarkan tahta dan harta, asalkan beliau bersedia menghentikan dakwahnya. Tawaran itu pun ditolak keras oleh Rasulullah Saw.
d. Melakukan tindakan kekerasan secara fisik terhadap orang yang masuk Islam. Budak yang masuk Islam disiksa dengan kejam seperti Bilal bin Rabah, Amir bin Fuhairah at Tamimi, Ummu Ubais, an Nadhiyah serta anaknya, Al Mu‟ammiliyah, dan Zinirah. Zinirah disiksa hingga matanya buta, sedang Ummu Amar bin Yair binti Kubath, budak wanita Bani Makhzum disiksa sampai mati. Bahkan Usman bin Affan pun pernah dikurung dan dipukuli dalam kamar gelap oleh saudaranya.Tekanan-tekanan ini ternyata tidak membuat Islam dijauhi. Sebaliknya, umatIslam semakin bertambah. Hal ini membuat Abu Jahal menekan kepada semua pemimpin Quraisy untuk melakukan pemboikotan kepada Bani Hasyim dan Bani Muthalib.Isi surat pemboikotan itu adalah sebagai berikut :
a. Muhammad dan kaum keluarga serta pengikutnya tidak diperbolehkan menikah dengan bangsa Arab Quraisy lainnya, baik laki-laki maupun perempuan.
b. Muhammad dan kaum keluarga serta pengikutnya tidak boleh mengadakan hubungan jual beli dengan kaum Quraisy lainnya.
c. Muhammad dan kaum keluarga serta pengikutnya tidak boleh bergaul dengan kaum Quraisy lainnya.
d. Kaum Quraisy tidak dibenarkan membantu dan menolong Muhammad, keluarga ataupun pengikutnya.

C. ISLAM MASA KHULAFAUR RASYIDIN
1. Mengenal Abu Bakar ash-Shiddiq
Nama lengkap: Abdullah bin Abu Quhafah bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr.
Julukan: Abu Bakar (Bakr = unta muda), juga bergelar Ash-Shiddiq karena membenarkan peristiwa Isra’ Mi’raj.
Lahir: Dua tahun setelah Tahun Gajah (± 572 M), tahun kelahiran Rasulullah SAW.

Sifat & kepribadian:
• Teman akrab Rasulullah sejak masa jahiliyah.
• Tidak pernah menyembah berhala sejak kecil.
• Dikenal cerdas, bijaksana, berakhlak mulia, lembut hati, dan teguh iman.
• Saudagar kaya raya, banyak pengetahuan, dan dihormati kaum Quraisy.

Kedekatan dengan Rasulullah:
• Sering menemani Rasulullah berdagang ke Syam.
• Ikut serta saat seorang pendeta memberi isyarat kenabian Nabi Muhammad.
• Orang pertama yang masuk Islam dari kalangan dewasa (Assabiqunal Awwalun).
• Mendapat gelar Ash-Shiddiq karena langsung mempercayai peristiwa Isra’ Mi’raj.
• Menjadi teman setia Rasulullah saat hijrah ke Madinah dan bersembunyi di Gua Tsur.
• Menjadi imam shalat ketika Rasulullah sakit.
• Memimpin haji tahun 9 H atas perintah Nabi.

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah
Konteks: Setelah Rasulullah wafat, kaum muslimin bingung menentukan pemimpin pengganti.
Abu Bakar memberi pidato tegas: "Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barangsiapa menyembah Allah, maka Allah tidak akan mati selamanya.”
Membacakan QS. Ali Imran [3]: 144 untuk meneguhkan umat.

Saqifah Bani Sa’idah:
• Kaum Anshar ingin mengangkat Sa’ad bin Ubadah sebagai khalifah.
• Kaum Muhajirin (Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah) hadir dan menegaskan pentingnya persatuan.

Usulan Abu Bakar:
• Awalnya mengusulkan Umar atau Abu Ubaidah.
• Namun, Umar menolak dan justru membai’at Abu Bakar.
• Seluruh kaum muslimin menyetujui bai’at tersebut.

Masa pemerintahan: 2 tahun 3 bulan 10 hari (11 H – 13 H).
Wafat: 21 Jumadil Akhir 13 H (22 Agustus 634 M) pada usia ±63 tahun, dimakamkan di samping makam Rasulullah.

Substansi dan Strategi Dakwah Abu Bakar
Selama masa kepemimpinannya yang singkat, Abu Bakar fokus menjaga kesatuan umat, memperkuat aqidah, dan menstabilkan pemerintahan Islam.

a. Peristiwa Riddah (Perang Melawan Kemurtadan)
• Setelah Nabi wafat, banyak kabilah murtad:Ada yang keluar dari Islam.
• Ada yang menolak zakat karena menganggap kewajiban gugur setelah Nabi wafat.

Abu Bakar bersikap tegas:
• Memerangi kelompok murtad demi menjaga aqidah dan stabilitas negara.
• Menugaskan Khalid bin Walid sebagai panglima utama.
• Hasilnya, wilayah Islam kembali bersatu.

Kodifikasi Al-Qur’an
• Banyak penghafal Al-Qur’an gugur dalam perang Riddah → dikhawatirkan ayat-ayat hilang.
• Umar bin Khathab mengusulkan pengumpulan Al-Qur’an.
• Abu Bakar menunjuk Zaid bin Tsabit untuk memimpin proses kodifikasi:
• Mengumpulkan ayat dari hafalan sahabat, catatan, dan tulisan yang ada.
• Hasilnya menjadi satu mushaf, kelak disempurnakan pada masa Utsman bin Affan.

Perluasan Wilayah Islam
• Setelah stabil di dalam negeri, Abu Bakar melanjutkan cita-cita Rasulullah untuk menyebarkan Islam keluar Jazirah Arab:Mengirim Usamah bin Zaid memimpin ekspedisi ke perbatasan Syam.
• Menugaskan 4 panglima besar untuk ekspedisi militer:
1). Abu Ubaidah bin Jarrah → menuju Himsh & Humah.
2).  Yazid bin Abu Sufyan → menuju Damaskus.
3). Syurahbil bin Hasanah → menuju Yordania.
4). Amr bin Ash → menuju Palestina.
5). Ikrimah bin Abu Jahal → pasukan cadangan, siap membantu empat pasukan utama.

Ciri Kepemimpinan Abu Bakar
• Konsisten pada musyawarah seperti Rasulullah.
• Tegas dalam menjaga aqidah dan persatuan.
• Rendah hati dan sederhana meski menjabat khalifah.
• Mengutamakan stabilitas umat daripada ekspansi kekuasaan semata.

2. Mengenal Umar bin Khathab (RA)
• Nama lengkap: Umar bin Khathab bin Nufail bin Adi bin Kaab bin Luay.
• Kelahiran: 13 tahun setelah Nabi Muhammad Saw lahir.

Masa muda:
• Tumbuh pada masa jahiliyah dengan kehidupan keras.
• Termasuk orang pandai membaca, menulis, dan belajar.
• Dikenal sebagai orang bijaksana, fasih berbicara, pemberani, dan tegas.
• Sering menyelesaikan sengketa di kalangan Quraisy.

Awal menolak Islam:
• Awalnya memusuhi Rasulullah dan kaum muslimin. Namun, ia mulai luluh melihat keteguhan iman umat Islam.

Faktor penting keislamannya adalah doa Rasulullah Saw:
"Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai: Abu Jahl atau Umar bin Khathab.” (HR. Tirmidzi)

Masuk Islam:
• Umar masuk Islam secara resmi pada tahun ke-6 kenabian.
• Setelah masuk Islam, dakwah menjadi lebih kuat dan terbuka.
• Rasulullah Saw memberinya gelar Al-Faruq (“pembeda antara haq dan batil”).

Peran dalam Hijrah:
• Kaum muslim berhijrah diam-diam, Umar berhijrah terang-terangan.

Pernah berkata lantang:
"Barangsiapa yang ingin ibunya kehilangan anaknya, temuilah aku di balik lembah ini!”
Tidak ada satu pun Quraisy yang berani menghalanginya.

Pengangkatan Umar bin Khathab sebagai Khalifah
Latar belakang:
• Setelah Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq sakit keras, beliau ingin menunjuk penggantinya agar kaum muslim tidak berselisih.
• Abu Bakar bermusyawarah dengan para sahabat, termasuk Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf.

Kesepakatan para sahabat:
• Semua sepakat Umar bin Khathab adalah sosok paling tepat.

Proses penunjukan:
Abu Bakar menulis wasiat pengangkatan Umar sebagai khalifah.
Kaum muslimin menyatakan baiat: “Kami mendengar dan kami taat.”

Mulai menjabat:
• Tanggal: Selasa, 22 Jumadil Tsani 13 H / 13 Agustus 634 M.
• Wafat: 3 Dzulhijjah 23 H.
• Masa kepemimpinan: 10 tahun, 6 bulan, 10 hari.

Substansi dan Strategi Dakwah Umar bin Khathab
Pada masa Umar, Islam berkembang pesat dan wilayahnya meluas. Strategi dan kebijakannya meliputi:
a . Perluasan Wilayah Islam
• Damaskus berhasil dikuasai.
• Syam (Syiria) jatuh ke tangan Islam.
• Mesir ditaklukkan di bawah pimpinan Amr bin Ash.
• Irak ditaklukkan di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waqash.

Wilayah kekuasaan Islam pada masa Umar meliputi:
1. Jazirah Arab
2. Palestina
3. Syiria
4. Sebagian besar Persia
5. Mesir

b. Kebijakan dan Reformasi Pemerintahan
1. Mengatur Administrasi Negara
Membagi wilayah menjadi 8 provinsi:
Makkah, Madinah, Syam, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir.

2. Membuat Undang-Undang
Menetapkan peraturan ketertiban pasar, ukuran timbangan, dan kebersihan pasar.

3. Membentuk Departemen Pemerintahan
• Jawatan kepolisian → menjaga keamanan dan ketertiban.
• Sistem gaji dan pajak tanah → lebih teratur dan transparan.
• Pengadilan → memisahkan lembaga yudikatif (hakim) dari eksekutif (pemerintah).
• Departemen pekerjaan umum → membangun infrastruktur, jalan, dan jembatan.
• Baitul Mal → mengelola keuangan negara, pajak, dan zakat.

4. Menetapkan Tahun Hijriyah
Penanggalan Islam resmi dimulai dari tahun hijrah Rasulullah Saw ke Madinah.

Prestasi Besar Khalifah Umar bin Khathab
• Memperluas wilayah Islam secara besar-besaran.
• Membentuk sistem administrasi negara yang rapi.
• Memisahkan kekuasaan kehakiman dari pemerintah.
• Membentuk Baitul Mal sebagai lembaga keuangan negara.
• Menetapkan penanggalan Hijriyah.
• Memperkuat dakwah Islam dan menjadikannya lebih terbuka.

Wafatnya Umar bin Khathab
• Wafat pada 3 Dzulhijjah 23 H.
• Dikenal sebagai khalifah yang adil, tegas, dan bijaksana.
• Dikenang sebagai salah satu pemimpin terbaik dalam sejarah Islam.

3. Mengenal Usman bin Affan
• Nama lengkap: Usman bin Affan bin Abu al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab.
• Kelahiran: Lahir di Makkah, 5 tahun setelah Tahun Gajah (sekitar 576 M). Ada pendapat lain yang mengatakan lahir di Thaif.
• Usia: Lebih muda 5 tahun dari Rasulullah SAW.
• Nasab: Bertemu dengan nasab Rasulullah pada Abdul Manaf.

Sifat & kepribadian:
• Terhormat di kalangan Bani Umayyah.
• Orang kaya, dermawan, pemalu, dan halus tutur katanya.
• Dicintai dan dihormati kaumnya.
• Tidak pernah menyembah berhala.
• Tidak pernah minum khamr dan menjaga pandangan.

Keilmuan & pekerjaan:
• Menguasai ilmu-ilmu Arab pada masa jahiliyah.
• Menekuni perdagangan warisan ayahnya.
• Termasuk salah satu tokoh penting dalam suku Quraisy.

a. Masuk Islam
• Termasuk golongan Assabiqqunal Awwalun (orang-orang pertama yang masuk Islam).
• Masuk Islam atas ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq.
• Menikah dengan Ruqayyah, putri Rasulullah SAW.
• Mengalami penyiksaan Quraisy, lalu hijrah ke Habasyah bersama istrinya.
• Kembali ke Makkah, lalu hijrah ke Madinah bersama kaum muslimin.

b. Julukan "Dzunnurrain" (Pemilik Dua Cahaya)
• Ketika Ruqayyah wafat seusai Perang Badar, Rasulullah menikahkannya dengan Ummu Kultsum, putri beliau yang lain.
• Karena menikahi dua putri Rasulullah, beliau dijuluki Dzunnurrain.

c. Kedermawanan Usman
• Usman bin Affan dikenal sangat dermawan, di antaranya:

Perang Tabuk:
• Menyumbang 940 unta, 60 ekor kuda, dan 10.000 dinar.
• Membantu membiayai Pasukan Usrah (pasukan dalam kesulitan).
• Membeli sumur Raumah dengan hartanya dan mewakafkannya untuk kaum muslimin.
• Sering menyumbangkan harta untuk kepentingan dakwah dan umat Islam.

d. Pengangkatan Menjadi Khalifah
• Setelah Umar bin Khattab ditikam oleh Abu Lu’luah, beliau membentuk Majelis Syura untuk memilih khalifah baru.

Enam anggota majelis:
1. Ali bin Abi Thalib
2.  Usman bin Affan
3. Abdurrahman bin Auf
4. Sa’ad bin Abi Waqqash
5. Zubair bin Awwam
6. Thalhah bin Ubaidillah

• Setelah musyawarah, Usman bin Affan terpilih.
• Dibaiat sebagai khalifah pada Senin, 28 Dzulhijjah 23 H.
• Mulai memerintah pada Muharram 24 H.
• Wafat 18 Dzulhijjah 35 H / 20 Mei 656 M.
• Lama memerintah: 12 tahun.


e.  Substansi & Strategi Pemerintahan Usman bin Affan
Selama masa kepemimpinannya, ada dua kebijakan besar dan beberapa pencapaian penting:
1. Perluasan Wilayah Islam
Melanjutkan ekspedisi militer yang terencana dan terukur.
Daerah-daerah yang berhasil dikuasai:
1. Armenia
2. Tunisia
3. Cyprus
4. Rhodes
5. Sebagian wilayah Persia

• Wilayah Islam semakin luas dan strategis.

f. Pembukuan dan Penyeragaman Al-Qur’an
• Terjadi perbedaan cara membaca Al-Qur’an di berbagai wilayah.
Usman memutuskan penyeragaman mushaf:
• Menyusun dan membukukan Al-Qur’an (dikenal dengan Mushaf Usmani).
Membuat beberapa salinan dan mengirimkannya ke:
1. Mesir
2. Syam
3. Yaman
4. Kufah
5. Basrah
6. Makkah
7. Satu mushaf disimpan di Madinah.
8. Mushaf lain yang berbeda cara baca dibakar untuk menghindari perselisihan.

g.  Wafatnya Usman bin Affan
• Usman wafat syahid pada 18 Dzulhijjah 35 H / 20 Mei 656 M.
• Saat itu, kondisi internal umat Islam sedang memanas dan terjadi banyak gejolak politik.


4. Mengenal Ali bin Abi Thalib
• Nama lengkap: ʿAlī bin Abī Ṭālib ibn ʿAbdil Muṭṭalib ibn Hāsyim ibn ʿAbdi Manāf ibn Quṣay ibn Kilāb ibn Murrah ibn Kaʿab ibn Luʾay.
• Lahir: Jumat, 13 Rajab 600 M di Makkah.
> Pendidikan & Asuhan:
• Sejak kecil diasuh dan dididik oleh Rasulullah SAW.
• Tumbuh dengan akhlak mulia dan sifat terpuji.

> Keutamaan dalam Islam:
• Termasuk golongan Assabiqunal Awwalun (orang-orang pertama yang masuk Islam) dari kalangan anak-anak.
• Selalu mendampingi Rasulullah SAW dalam dakwah, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya:
• Saat malam Hijrah ke Yasrib (Madinah), Ali tidur di ranjang Rasulullah menggantikannya agar beliau selamat.
• Dikenal sebagai Babul 'Ilmi (Pintu Ilmu) karena memiliki pengetahuan agama yang luas dan mendalam.
→ Banyak sahabat senior berkonsultasi kepada beliau.

> Keberanian & Julukan:
• Selalu memegang panji-panji perang Rasulullah SAW.
• Sangat pemberani, dijuluki Asadullah (Singa Allah).
• Ikut serta dalam Perang Badar dan banyak pertempuran besar lainnya.
• Tidak ikut Perang Tabuk karena ditugaskan Rasulullah menjaga keluarga dan memimpin Madinah.

> Sifat-sifat utama:
• Tegas dalam peperangan.
• Penyayang kepada keluarga dan umat.
• Dermawan: Sering bersedekah meskipun untuk kebutuhan keluarganya sendiri.

a. Pengangkatan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah
Latar belakang:
• Terjadi pengepungan terhadap Khalifah Utsman bin Affan oleh pemberontak.
• Ali bahkan menugaskan putranya, Hasan dan Husain, menjaga Utsman.
• Namun, Utsman akhirnya terbunuh.

> Permintaan sahabat:
• Setelah wafatnya Utsman, para sahabat berkumpul dan meminta Ali menjadi khalifah.

Alasan sahabat memilih Ali:
• Paling senior dalam Islam.
• Paling dekat dengan Rasulullah SAW.
• Memiliki ilmu, akhlak, dan keberanian yang tinggi.

Sikap Ali:
• Awalnya menolak karena situasi politik yang kacau.
• Namun, setelah desakan sahabat dan demi mencegah perpecahan umat, Ali menerima.

Penobatan:
• Tanggal: 24 Juni 656 M / 35 H.
• Tempat: Masjid Nabawi, Madinah.


Pidato Ali:
 "Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk untuk membedakan yang baik dari yang buruk. Maka, lakukanlah kebaikan dan tinggalkanlah keburukan."


b. Masa Pemerintahan Ali bin Abi Thalib (656–661 M)
• Lama memimpin: 4 tahun 9 bulan.
Kondisi pemerintahan:
• Penuh gejolak politik dan konflik internal.
• Banyak pemberontakan yang menghambat jalannya pemerintahan.

Perang besar yang terjadi:
1. Perang Jamal (656 M)
Antara Ali bin Abi Thalib melawan kelompok Aisyah RA, Thalhah, dan Zubair. Penyebab: Tuntutan balas dendam atas wafatnya Utsman.

2. Perang Shiffin (657 M)
Antara Ali melawan Muawiyah bin Abu Sufyan (Gubernur Syam). Penyebab: Penolakan Muawiyah untuk berbaiat kepada Ali sebelum pembunuh Utsman dihukum.

Strategi Ali dalam memimpin:
1.  Memecat pejabat-pejabat lama yang diangkat oleh Utsman, diganti dengan pejabat baru yang loyal dan adil.
2. Mengambil kembali tanah-tanah yang dibagikan Utsman kepada kerabatnya secara tidak sah, lalu memasukkannya kembali ke kas negara.

c. Wafatnya Ali bin Abi Thalib
Peristiwa penikaman:
• Pada 17 Ramadhan 40 H (661 M), Ali ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam saat shalat Subuh.
Wafat:
• Tanggal: 20 Ramadhan 40 H (661 M).
• Tempat wafat: Kufah, Irak.
• Usia: 63 tahun.
• Dimakamkan: Di Kufah.

Peninggalan besar Ali:
• Sosok ilmuwan, pemberani, dan adil.
• Dikenal sebagai salah satu Khulafaur Rasyidin.
• Berperan besar dalam menjaga persatuan umat di masa krisis.

Posting Komentar

Pilihan Editor

Hendrii · aishwa nahla