BAB I
KEKHALIFAHAN BANI UMAYYAH
A. Latar Belakang dan Faktor-Faktor yang Memdorong Berdirinya Kekhalifahan Bani Umayyah
Daulah Bani Umayyah merupakan daulah pertama yang pertama kali
didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 40 H. Secara singkat, proses
berdirinya Bani Umayyah dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Perang Shiffin
Pada akhir masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, muncul
ketidakpuasan atas sikap Ali bin Abi Thalib yang menunda keputusan untuk
menghukum pembunuh Utsman bin Affan. Pada saat itu, Ali bin Abi Thalib mengambil kebijakan untuk
mengganti beberapa gubernur yang di angkat oleh Utsman bin Affan sebelum
menghukumi pembunuh Utsman bin Affan dengan alasan meredam gejolak masyarakat Islam
yang sedang dalam masa transisi. Kebijakan Ali ini berpengaruh juga pada
Muawiyah yang pada saat itu menjabat sebagai gubernur Syam. Muawiyah tidak
terima dengan kebijakan Ali ini. Karena masing-masing pihak bersikukuh dengan pendapatnya, maka pada
akhirnya menyebabkan Perang Shiffin yang terjadi pada beberapa hari di Bulan
Dzulhijjah tahun 36 H. Pada perang ini, pasukan Ali yang di pimpin oleh Aystar menunjukkan
tanda-tanda kemenangan, sehingga muncullah beberapa orang dari pihak Muawiyyah
mengangkat Mushaf Al-Qur'an sebagai tanda perdamaian.
2. Tahkim
Setelah melakukan berbagai pertimbangan, pihak Ali akhirnya
menerima ajakan perdamaian tersebut dan sepakat untuk mengembalikan keputusan
kepada kitabullah dan menunjuk perwakilan dari masing-masing kelompok untuk melakukan
perundingan. Pihak Ali menunjuk Abu Musa al-Asy'ari sedangkan pihak Muawiyyah
menunjuk Amr bin Ash. Mereka bersepakat dengan sebuah perjanjian Tahkim untuk
melakukan gencatan senjata dan mengembalikan persoalan umat pada kitabulloh. Setelah waktu perundingan tiba, kedua kubu berkumpul dengan
masing-masing membawa 400 pasukan. Mereka berkumpul di Daumatul Jandal,
tepatnya di Adzruh. Abu Musa al-Asy'ari diberi kesempatan pertama untuk menyampaikan
pidato oleh Amr bin ash. Dalam pidatonya Abu Musa al-Asy'ari menyebutkan
bahwasannya Ali bin Abi Thalib dan Muawiyyah dicopot dari jabatannya dan
meminta masyarakat untuk memilih kepala negara sendiri. Sedangkan Amr bin Ash dalam pidatonya
mengukuhkan kedudukan Muawiyyah sebagai pengganti Utsman. Hasil dari perundingan ini tentu tidak memuaskan kedua belah pihak,
terutama pihak Ali. Namun, Muawiyah tetap yakin untuk maju karena memiliki
pasukan pendukung yang kuat. Dengan keputusan tahkim tersebut, kedudukan Muawiyyah semakin kuat
dan dia akhirnya di bai'at menjadi khalifah oleh pendduduk Syam. Muawiyyah
berturut-turut mencari dukungan kekuatan dari Mesir dan memberangkatkan
pasukannya ke beberapa wilayah yang dikuasai oleh Ali. Pengikut Ali yang merasa kecewa akhirnya keluar dari golongan Ali
dan menamakan diri mereka kelompok Khawarij.
3. Amul Jamaah
Setelah Ali bin Abi Thalin wafat karena kekejaman kelompok
Khawarij, diangkatlah Hasan bin Ali sebagai penerus. Namun, karena Hasan memiliki pandangan yang tepat atas beberapa kondisi
dan lebih menyukai persahabatan daripada kekacauan, maka pada akhirnya Hasan
tidak memiliki pilihan yang lebih bijak selain turun dari jabatannya. Setelah Hasan turun dari jabatan dan membuat perjanjian damai
dengan beberapa syarat yang disetujui kedua belah pihak, Hasan kemudian
menuliskan pembai'atannya atas Muawiyyah dan menyerahkan kota Kuffah pada
Muawiyyah pada akhir Rabi'ul Awwal tahun 41 H. Ketegangan diantara mereka pun
mereda dan kaum muslimin menyebut tahun itu sebagai Ammul Jamaah (tahun
persatuan).
B. Pencapaian Kekhalifahan Bani Umayyah
Berikut beberapa pencapaian Kekhalifahan Bani Umayyah (661–750 M)
dalam berbagai bidang :
1. Bidang Pemerintahan
- Sistem administrasi lebih teratur (dengan membagi wilayah
kekhalifahan ke dalam beberapa provinsi dengan gubernur)
- Bahasa Arab sebagai bahasa resmi (dipakai dalam administrasi,
hukum, dan surat-menyurat)
- Penguatan militer (membentuk angkatan darat dan laut yang kuat,
sehingga wilayah Islam meluas sampai Spanyol di barat dan India di timur)
- Sentralisasi kekuasaan (khalifah berperan penting dalam segala
urusan negara)
- Pembangunan infrastruktur (membangun jalan, pos, serta sistem
komunikasi antarwilayah)
2. Bidang Ilmu Pengetahuan
- Pusat penerjemahan (karya-karya filsafat, sains, dan kedokteran Yunani serta Persia mulai
diterjemahkan ke bahasa Arab)
- Ilmu agama (berkembangnya ilmu tafsir, hadis, dan fiqih.
Ulama-ulama besar seperti Imam Az-Zuhri hidup di masa ini)
- Astronomi dan matematika (mulai dipelajari untuk kepentingan hisab
: penentuan waktu ibadah dan kalender).
- Arsitektur Islam (berkembang pesat, misalnya pembangunan Masjid
Umayyah di Damaskus yang megah)
3. Bidang Ekonomi
- Pertanian maju(pembangunan sistem irigasi, pengairan, serta
pengelolaan lahan subur di Mesir, Irak, dan Andalusia)
- Perdagangan internasional (jalur perdagangan menghubungkan Asia,
Afrika, dan Eropa)
- Pengenalan dinar dan dirham (mata uang resmi dikeluarkan dengan
tulisan Arab, menggantikan koin Bizantium dan Persia)
- Kesejahteraan meningkat (hasil bumi, rempah, dan barang-barang dari
wilayah taklukan memperkaya kas negara)
4. Bidang Sosial
- Penyebaran Islam luas (banyak masyarakat di wilayah taklukan
memeluk Islam, terutama di Spanyol, Afrika Utara, dan Asia Tengah)
- Perkembangan kota-kota besar (Damaskus, Kairouan, dan Cordoba menjadi
pusat kebudayaan dan ilmu)
- Kesenian dan budaya (berkembang dalam bentuk syair, kaligrafi, dan
seni bangunan)
- Stratifikasi sosial (meski sempat terjadi diskriminasi antara
bangsa Arab dan non-Arab (mawali), namun lambat laun Islam semakin menyatukan
masyarakat)
Kesimpulan:
Kekhalifahan Bani Umayyah berhasil membangun fondasi besar bagi peradaban Islam, baik dalam
pemerintahan yang teratur, pengembangan ilmu, kemajuan ekonomi, maupun
interaksi sosial-budaya yang memperluas pengaruh Islam hingga menjadi kekuatan
dunia.
C. Para Khalifah dan Tokoh Penting di Balik Kesuksesan Bani Umayyah
Khalifah Penting Bani Umayyah ;
1. Mu’awiyah bin Abi Sufyan (661–680 M)
a. Pendiri Dinasti Umayyah.
b. Memindahkan pusat pemerintahan ke Damaskus (Suriah).
c. Menyusun sistem pemerintahan monarki turun-temurun.
d. Membentuk angkatan laut yang kuat.
2. Abdul Malik bin Marwan (685–705 M)
a. Menyatukan wilayah kekuasaan setelah banyak konflik.
b. Menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi administrasi.
c. Mencetak mata uang sendiri (dinar dan dirham Islam).
3. Al-Walid bin Abdul Malik (705–715 M)
a. Puncak kejayaan Bani Umayyah.
b. Ekspansi wilayah ke Spanyol (Andalusia), India, dan Afrika
Utara.
c. Membangun Masjid Agung Damaskus.
d. Mendorong pembangunan rumah sakit, jalan, dan infrastruktur.
4. Umar bin Abdul Aziz (717–720 M)
a. Dijuluki Khalifah yang Adil dan dianggap sebagai Khalifah Rasyid
kelima.
b. Melakukan reformasi pajak, meringankan beban rakyat, dan
memperhatikan fakir miskin.
c. Menghapus kemewahan istana dan mengembalikan kesederhanaan
Islam.
5. Hisyam bin Abdul Malik (724–743 M)
a. Memperkuat pertahanan negara.
b. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan seni.
c. Masa stabil, meskipun mulai ada pemberontakan kecil.
Tokoh Penting di Balik Kesuksesan Bani Umayyah :
1. Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi
a. Gubernur Irak yang tegas dan loyal kepada khalifah.
b. Berperan besar dalam menegakkan kekuasaan Abdul Malik bin
Marwan.
c. Mengembangkan tata bahasa Arab dan memerintahkan titik serta
harakat dalam mushaf Al-Qur’an.
2. Tariq bin Ziyad
a. Panglima yang menaklukkan Spanyol (711 M).
b. Namanya diabadikan di Selat Gibraltar (Jabal Tariq).
3. Musa bin Nushair
a. Gubernur Afrika Utara.
b. Bersama Tariq bin Ziyad, membawa Islam ke Andalusia.
4. Qutaibah bin Muslim
a. Panglima yang menaklukkan wilayah Asia Tengah (Samarkand,
Bukhara).
b. Membuka jalan penyebaran Islam ke Turkistan.
D. Kemunduran dan Berakhirnya Kekhalifahan Bani Umayyah
Kemunduran Bani Umayyah disebabkan oleh konflik internal,
diskriminasi, pemberontakan, kelemahan pemimpin, dan luasnya wilayah. Akhirnya
pada tahun 750 M, dinasti ini runtuh dan digantikan oleh Dinasti Abbasiyah,
meski masih bertahan di Spanyol.
