A. Deskripsi Umum Kesultanan Mughal
Kesultanan Mughal merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar di dunia yang berdiri di India sejak abad ke-16 hingga abad ke-19. Dinasti ini didirikan oleh Zahiruddin Babur pada tahun 1526 setelah berhasil mengalahkan Sultan Ibrahim Lodi dalam Pertempuran Panipat I. Mughal berasal dari kata Mongol, karena pendiri dinasti ini masih memiliki garis keturunan dengan Timur Lenk (Timurid) dari pihak ayah dan Jenghis Khan (Mongol) dari pihak ibu. Puncak kejayaan terjadi pada masa Akbar dan Shah Jahan, sedangkan kemundurannya dimulai setelah Aurangzeb. Warisan budaya Mughal, terutama dalam arsitektur seperti Taj Mahal, menjadi bukti kejayaan Islam di India.
B. Faktor-faktor yang Mendorong Berdirinya Kesultanan Mughal
1. Latar Belakang Keturunan Babur
Babur berasal dari garis keturunan bangsawan besar:
Dari ayah: keturunan Timur Lenk (penakluk Asia Tengah).
Dari ibu: keturunan Jengis Khan (penakluk Mongol).
Hal ini memberinya legitimasi politik untuk mendirikan kerajaan besar.
2. Kondisi Politik India yang Lemah
Kesultanan Delhi saat itu rapuh, penuh intrik, dan tidak memiliki pemimpin yang kuat.
Banyak kerajaan kecil di India terpecah-pecah, sehingga mudah ditaklukkan.
3. Kemampuan Militer Babur
Babur memiliki pasukan yang terlatih dengan strategi modern.
Ia memperkenalkan meriam dan senjata api dalam peperangan, yang sebelumnya jarang digunakan di India. Dalam Perang Panipat I (1526 M), kekuatan pasukan Babur yang lebih sedikit mampu mengalahkan pasukan Ibrahim Lodi yang lebih besar karena keunggulan taktik.
4. Ambisi Ekspansi Wilayah
Babur sudah beberapa kali gagal menguasai Samarkand (Asia Tengah). Karena gagal di tanah kelahirannya, ia memandang India sebagai wilayah strategis dan kaya untuk dijadikan pusat kekuasaan.
5. Kondisi Ekonomi India yang Menarik
India dikenal sebagai pusat perdagangan, terutama rempah-rempah, tekstil, dan hasil bumi.
Kekayaan ini menjadi daya tarik besar bagi Babur untuk menaklukkannya.
6. Dukungan dan Loyalitas Pasukan
Pasukan Babur, walaupun sedikit, sangat loyal dan disiplin.
Mereka percaya pada kepemimpinan Babur dan siap berjuang demi mendirikan kerajaan baru.
C. Perkembangan Kesultanan Mughal
1. Masa Babur (1526–1530)
Pendiri Kesultanan Mughal.
Menguasai wilayah Delhi dan Agra.
Menang dalam Pertempuran Panipat I melawan Lodi dengan strategi meriam dan kavaleri modern.
Memperkenalkan tradisi seni dan budaya Persia.
2. Masa Humayun (1530–1556)
Putra Babur.
Menghadapi banyak pemberontakan dan sempat kehilangan kekuasaan akibat serangan Sher Shah Suri.
Berhasil merebut kembali Delhi sebelum wafat.
3. Masa Akbar Agung (1556–1605)
Raja terbesar Mughal.
Melakukan ekspansi besar-besaran, hampir seluruh India berada di bawah kekuasaan Mughal.
Membentuk sistem administrasi modern dan toleransi beragama (Din-i Ilahi).
Mendirikan kota Fatehpur Sikri.
4. Masa Jahangir (1605–1627)
Putra Akbar.
Lebih menekankan pada seni, lukisan, dan sastra.
Stabilitas kerajaan tetap terjaga.
5. Masa Shah Jahan (1628–1658)
Dikenal sebagai raja yang membangun banyak monumen megah.
Taj Mahal adalah karya arsitektur terkenal yang dibangun untuk mengenang istrinya, Mumtaz Mahal.
Masa kejayaan budaya dan arsitektur Mughal.
6. Masa Aurangzeb (1658–1707)
Penguasa Mughal terakhir yang kuat.
Sangat ketat dalam hukum Islam (syariat).
Ekspansi wilayah mencapai puncak terbesar, tetapi kebijakan kerasnya memicu pemberontakan.
7. Masa Kemunduran (1707–1858)
Setelah Aurangzeb wafat, Mughal mengalami pelemahan.
Wilayah mulai terpecah dan pengaruhnya menurun.
Inggris melalui East India Company memperluas pengaruhnya hingga akhirnya pada 1858, setelah Pemberontakan India 1857, Mughal runtuh dan India resmi menjadi koloni Inggris.
D. Kebudayaan dan Peninggalan Mughal
Kesultanan Mughal tidak hanya berpengaruh dalam politik, tetapi juga dalam seni, budaya, dan arsitektur.
Taj Mahal (Shah Jahan).
Masjid Jama Delhi.
Benteng Agra.
Seni kaligrafi, lukisan miniatur, dan sastra Persia berkembang pesat.
E. Pengaruh Kesultanan Mughal bagi Peradaban
Membawa kemajuan dalam bidang politik dan pemerintahan.
Menyebarkan Islam di India dengan damai melalui akulturasi budaya.
Menghasilkan karya seni dan arsitektur dunia.
Memberikan warisan sistem hukum, perpajakan, dan administrasi modern.
