BAB II
IMAN KEPADA ALLAH
A. Pengertian Iman kepada Allah
Iman kepada Allah adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah ada (wujud-Nya pasti), serta mengakui keesaan-Nya dalam dzat, sifat, dan perbuatan-Nya. Keyakinan ini kemudian diucapkan dengan lisan (syahadat) dan dibuktikan dengan amal perbuatan sehari-hari.
Secara bahasa, kata iman berasal dari bahasa Arab: آمَنَ – يُؤْمِنُ – إِيمَانًا yang berarti percaya, membenarkan, atau meyakini dengan sepenuh hati. Secara istilah, iman kepada Allah berarti: "Meyakini dengan teguh bahwa Allah adalah Rabb (Pencipta, Pemelihara, dan Penguasa seluruh alam), tiada sekutu bagi-Nya, dan hanya Dia yang berhak disembah."
Aspek Penting Iman kepada Allah
1. Meyakini keberadaan Allah (Wujud Allah): Allah benar-benar ada, bukan khayalan, bukan ciptaan, dan tidak pernah tidak ada.
2. Meyakini keesaan Allah (Tauhid):
Tauhid Rububiyah → Allah satu-satunya Pencipta, Pengatur, dan Pemelihara alam semesta.
Tauhid Uluhiyah → Allah satu-satunya yang berhak disembah.
Tauhid Asma’ wa Shifat → Allah memiliki nama dan sifat yang mulia, sesuai kesempurnaan-Nya.
3. Membuktikan dengan amal perbuatan:
Menjalankan perintah-Nya (shalat, zakat, puasa, haji, dll.)
Menjauhi larangan-Nya (syirik, maksiat, kedzaliman, dll.)
Berakhlak mulia sesuai tuntunan agama.
Dalil tentang Iman kepada Allah
1. Dalil Naqli (Al-Qur’an): Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 2:
"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa."
Maksudnya, orang yang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada Allah dengan benar.
2. Dalil Aqli (Logika): Adanya alam semesta yang teratur menandakan adanya Sang Pencipta. Semua makhluk lemah dan terbatas, pasti ada Zat yang Mahakuasa dan tidak terbatas, yaitu Allah.
B. Hakikat Beriman kepada Allah sebagai Rabbul ‘Alamin
Allah adalah Rabbul ‘Alamin, artinya Tuhan seluruh alam. Ia menciptakan, memelihara, mengatur, dan menguasai segala sesuatu di alam semesta. Hakikat beriman kepada Allah berarti:
1. Meyakini bahwa Allah adalah pencipta seluruh makhluk.
2. Menyadari bahwa Allah yang mengatur rezeki, kehidupan, dan kematian makhluk.
3. Mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya tempat bergantung.
4. Tunduk dan taat terhadap segala perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.
C. Sifat-Sifat Allah
Untuk mengenal Allah, kita dapat memahami sifat-sifat-Nya yang mulia. Para ulama membagi sifat Allah ke dalam empat kelompok besar:
1. Sifat Nafsiyah Allah
a. Pengertian
Sifat nafsiyah adalah sifat yang menunjukkan keberadaan Allah. Artinya, Allah benar-benar ada (wujud), dan keberadaan-Nya bukan karena sesuatu yang menciptakan, melahirkan, atau mendahului-Nya. Allah ada dengan sendirinya, tidak bergantung kepada makhluk atau sesuatu apa pun.
b. Contoh Sifat Nafsiyah
Hanya ada satu sifat nafsiyah, yaitu:
1). Wujud (وُجُوْدٌ) → artinya ada. Allah pasti ada dan tidak mungkin tidak ada. Adanya Allah bersifat azali (tanpa permulaan) dan abadi (tanpa akhir).
c. Penjelasan tentang Wujud Allah
Allah ada bukan karena diciptakan.
Allah ada tanpa permulaan (tidak diawali oleh sesuatu).
Allah ada tanpa akhir (tidak akan binasa).
Keberadaan Allah berbeda dengan makhluk, karena semua makhluk diciptakan dan bergantung pada sesuatu, sedangkan Allah tidak.
d. Dalil Naqli
Allah menegaskan keberadaan-Nya dalam Al-Qur’an:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus makhluk-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah itu ada, Maha Hidup, dan menjadi pengatur segala sesuatu.
e. Dalil Aqli
Alam semesta yang luas, teratur, dan indah ini mustahil ada dengan sendirinya.
Ada pencipta yang mengaturnya, yaitu Allah.
Seperti halnya sebuah rumah yang rapi pasti ada pembuatnya, begitu pula alam semesta pasti ada penciptanya.
f. Hikmah Memahami Sifat Nafsiyah
1). Meyakini bahwa Allah benar-benar ada dan selalu mengawasi kita.
2). Menumbuhkan rasa syukur karena hidup dan segala nikmat berasal dari Allah.
3). Meningkatkan iman, sehingga tidak mudah goyah oleh pemikiran yang menolak keberadaan Allah (ateisme).
4). Membuat manusia lebih rendah hati dan tidak sombong, karena sadar dirinya hanya makhluk ciptaan.
2. Sifat Salbiyah Allah
a. Pengertian
Sifat Salbiyah adalah sifat-sifat Allah ﷻ yang meniadakan segala kekurangan, kelemahan, dan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya. Artinya, sifat ini menolak kemungkinan adanya kekurangan pada Allah, sehingga menegaskan bahwa Allah Maha Sempurna dan tidak serupa dengan makhluk-Nya. Dengan kata lain, sifat salbiyah adalah sifat yang menghilangkan hal-hal yang mustahil ada pada Allah.
b. Macam-Macam Sifat Salbiyah
Ada lima sifat salbiyah, yaitu:
1). Qidam (قِدَم) Artinya: Dahulu, tanpa permulaan. Allah ada sejak azali, tanpa awal dan tanpa didahului oleh sesuatu pun.
Dalil: “Dialah yang Awal dan yang Akhir, yang Zhahir dan yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid: 3).
2). Baqa’ (بَقَاء) Artinya: Kekal, tidak berakhir. Allah tidak akan binasa dan tidak akan musnah.
Dalil: “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26–27).
3). Mukhalafatu lil-hawadits (مُخَالَفَةٌ لِلْحَوَادِثِ) Artinya: Berbeda dengan makhluk yang baru. Allah tidak serupa dengan makhluk dalam zat, sifat, maupun perbuatan.
Dalil: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11).
4). Qiyamuhu binafsih (قِيَامُهُ بِنَفْسِهِ) Artinya: Berdiri sendiri. Allah tidak membutuhkan tempat, penolong, maupun sesuatu yang membuat-Nya ada. Allah tidak bergantung kepada apa pun.
Dalil: “Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya).” (QS. Al-Baqarah: 255).
5). Wahdaniyah (وَحْدَانِيَّة) Artinya: Esa atau tunggal. Allah Maha Esa dalam zat, sifat, dan perbuatan. Tidak ada sekutu, tandingan, ataupun yang menyerupai-Nya.
Dalil: “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas: 1).
3. Sifat Ma’ani
a. Pengertian
Sifat Ma’ani adalah sifat-sifat yang ada pada Allah yang menunjukkan kekuasaan, kesempurnaan, dan kemampuan Allah untuk berbuat sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya. Sifat ini menegaskan bahwa Allah tidak pasif, tetapi memiliki sifat aktif yang nyata dalam mengatur alam semesta.
b. Macam-macam Sifat Ma’ani (7 Sifat)
1). Qudrat (قدرة) → Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Artinya, tidak ada sesuatu pun di alam semesta ini yang luput dari kekuasaan Allah.
2). Iradat (إرادة) → Allah berkehendak atas segala sesuatu. Artinya, semua yang terjadi di dunia ini adalah atas kehendak Allah, bukan karena paksaan siapa pun.
3). Ilmu (علم) → Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Pengetahuan Allah meliputi yang tampak maupun yang tersembunyi, masa lalu, sekarang, dan masa depan.
4). Hayat (حياة) → Allah Maha Hidup. Kehidupan Allah sempurna, tidak bergantung pada siapa pun, tidak berawal, dan tidak berakhir.
5). Sama’ (سمع) → Allah Maha Mendengar. Allah mendengar segala sesuatu, baik yang lirih maupun yang jelas, tanpa ada batasan telinga atau alat pendengar.
6). Bashar (بصر) → Allah Maha Melihat. Allah melihat segala sesuatu, yang tampak maupun tersembunyi, tidak terbatas oleh mata atau cahaya.
7). Kalam (كلام) → Allah berfirman. Firman Allah itu qadim (tidak diciptakan), sempurna, dan disampaikan melalui wahyu kepada para nabi.
4. Sifat Ma’nawiyah
a. Pengertian
Sifat Ma’nawiyah adalah sifat-sifat Allah yang menunjukkan keberadaan dan ketetapan sifat Ma‘ani pada diri Allah. Artinya, sifat ini merupakan penegasan bahwa Allah benar-benar memiliki dan bersifat dengan sifat Ma‘ani. Jika sifat Ma‘ani adalah “sifat kemampuan atau potensi” (misalnya: qudrat = kekuasaan, ilmu = pengetahuan), maka sifat Ma‘nawiyah adalah “pernyataan atau keadaan nyata dari sifat itu” (misalnya: Allah Maha Kuasa, Allah Maha Mengetahui).
b. Perbedaan Sifat Ma’ani dan Ma’nawiyah
1). Sifat Ma‘ani → nama sifat, misalnya: Qudrat (kekuasaan), Ilmu (pengetahuan).
2). Sifat Ma‘nawiyah → konsekuensi atau keadaan dari sifat tersebut, misalnya: Allah Maha Kuasa (Qādirun), Allah Maha Mengetahui (‘Ālimun).
Dengan kata lain, Ma‘ani adalah “potensi”, sedangkan Ma‘nawiyah adalah “aktualisasi dan keberadaannya”. Ada 7 sifat Ma‘nawiyah, yang merupakan konsekuensi dari 7 sifat Ma‘ani.
1). Qudrat (kekuasaan) -> Allah Qādirun (Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu)
2). Iradat (kehendak) -> Allah Murīdon (Allah Maha Berkehendak, segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya)
3). Ilmu (pengetahuan) -> Allah ‘Ālimun (Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, lahir dan batin)
4). Hayat (hidup) -> Allah Hayyun (Allah Maha Hidup, hidup-Nya tidak berawal dan tidak berakhir)
5). Sama’ (mendengar) -> Allah Samī‘un (Allah Maha Mendengar segala sesuatu tanpa batas)
6). Bashar (melihat) -> Allah Bashīrun (Allah Maha Melihat segala sesuatu tanpa terhalang)
7). Kalam (berfirman) -> Allah Mutakallimun (Allah Maha Berfirman, berbicara tanpa membutuhkan alat suara)
c. Penjelasan Masing-Masing Sifat Ma’nawiyah
1). Qādirun (Maha Kuasa) Allah berkuasa menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rezeki, dan mengatur seluruh alam semesta tanpa ada yang dapat menghalangi.
Dalil: “Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 20)
2). Murīdon (Maha Berkehendak) Semua yang terjadi di alam semesta ini adalah karena kehendak Allah, bukan karena kebetulan.
Dalil: “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82)
3). ‘Ālimun (Maha Mengetahui) Allah mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak maupun tersembunyi, yang lalu, sekarang, dan akan datang.
Dalil: “Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Mujadilah: 7)
4). Hayyun (Maha Hidup) Allah hidup dengan kehidupan yang sempurna, tidak diawali dan tidak diakhiri dengan kematian.
Dalil: “Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).” (QS. Al-Baqarah: 255)
5). Samī‘un (Maha Mendengar) Allah mendengar segala sesuatu, baik suara yang keras maupun yang paling tersembunyi.
Dalil: “Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256)
6). Bashīrun (Maha Melihat) Allah melihat segala sesuatu tanpa batas dan tidak terhalang oleh apapun.
Dalil: “Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hujurat: 18)
7). Mutakallimun (Maha Berfirman) Allah berfirman sesuai dengan kehendak-Nya, dan firman-Nya disampaikan kepada nabi melalui wahyu.
Dalil: “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS. An-Nisa: 164)
d. Hikmah Memahami Sifat Ma’nawiyah
1). Meneguhkan keyakinan bahwa Allah memiliki kesempurnaan mutlak.
2). Menumbuhkan rasa syukur dan tawakal, karena segala sesuatu terjadi atas kuasa dan kehendak Allah.
3). Mendorong manusia untuk berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan, karena Allah Maha Mengetahui, Mendengar, dan Melihat.
4). Menguatkan iman kepada wahyu, karena Al-Qur’an adalah firman Allah yang Maha Berfirman.
