Bab 2: Transliterasi Arab–Latin

BAB II
Transliterasi Arab–Latin
 

A.   
Pendahuluan
Bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur’an dan memiliki huruf tersendiri yang berbeda dari huruf Latin. Dalam penulisan karya ilmiah, buku pelajaran, maupun dokumen resmi yang menggunakan bahasa Indonesia, sering kali diperlukan alih huruf (transliterasi) dari huruf Arab ke huruf Latin agar dapat dibaca dan dipahami oleh masyarakat luas. Transliterasi bukan penerjemahan arti, melainkan penggantian huruf dari satu sistem tulisan ke sistem tulisan lain dengan tetap mempertahankan lafal aslinya.
Di Indonesia, transliterasi Arab–Latin diatur secara resmi melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, yaitu: SKB Nomor 158 Tahun 1987 dan Nomor 0543b/U/1987. Selain itu, di dunia internasional terdapat sistem transliterasi lain, seperti ALA–LC (American Library Association – Library of Congress) yang digunakan secara luas di perpustakaan dan publikasi akademik.
 
B.     Pengertian dan Tujuan Transliterasi
Transliterasi adalah proses pengalihan huruf dari satu sistem tulisan ke sistem tulisan lain tanpa mengubah bunyi aslinya. Tujuan Transliterasi:
1.      Agar teks Arab dapat dibaca oleh orang yang tidak bisa membaca huruf Arab.
2.     Untuk memudahkan penulisan ilmiah dalam bahasa Indonesia yang mengandung istilah atau kutipan Arab.
3.      Menyeragamkan penulisan istilah Arab dalam dokumen resmi, karya ilmiah, dan buku pelajaran.
 
C.    Sistem Transliterasi Arab–Latin di Indonesia
Berdasarkan SKB Menag dan Mendikbud RI Nomor 158 Tahun 1987 dan Nomor 0543b/U/1987, transliterasi huruf Arab ke huruf Latin ditetapkan sebagai berikut:

1.      Huruf Hijaiyah dan Padanan Latinnya

2.      Kaidah Penulisan
a. Vokal Pendek

b. Vokal Panjang (Maddah)

c. Ta Marbūṭah (ة)
Bila hidup (diikuti harakat), ditulis t → رَحْمَةٌ = raḥmatun.
Bila mati, ditulis h → الزَّكَاة = az-zakāh.
 
d. Syaddah (Tasydid)
Ditulis dengan menggandakan huruf: → رَبّ = rabb, مَدَّ = madda.
 
e. Kata Sandang (Alif-Lam)
Jika bertemu huruf syamsiyyah, huruf “l” diganti dengan huruf berikutnya: → الشَّمْس = asy-syams.
Jika bertemu huruf qamariyyah, huruf “l” tetap dibaca: → الْقَمَر = al-qamar.
 
f. Hamzah (ء)
Di tengah atau akhir kata, ditulis tanda apostrof (’): → سَأَلَ = sa’ala.
Di awal kata tidak ditulis karena sudah diwakili huruf vokalnya: → أَكَلَ = akala.
 
D.    Sistem Transliterasi ALA–LC (Internasional)
Sistem ALA–LC (American Library Association – Library of Congress) merupakan standar internasional untuk transliterasi huruf Arab ke huruf Latin yang banyak digunakan oleh perpustakaan besar, jurnal akademik, dan penelitian ilmiah di dunia. Standar ini pertama kali dikembangkan oleh Library of Congress di Amerika Serikat dan diadopsi secara resmi oleh berbagai lembaga internasional sebagai pedoman katalogisasi dan sitasi ilmiah. Ciri-Ciri Umum Sistem ALA–LC
a. Menggunakan tanda macron (¯) di atas huruf vokal panjang: ā, ī, ū.
b. Menggunakan titik bawah (dot below) untuk membedakan huruf yang mirip: ḥ, ṣ, ḍ, ṭ, ẓ.
c. Huruf hamzah (ء) ditulis dengan ʾ (apostrof miring atas), sedangkan ‘ain (ع) ditulis dengan ʿ (apostrof terbalik).
d. Huruf tasydid (syaddah) ditulis dengan penggandaan huruf, bukan tanda khusus.
e. Tanda kecil di atas atau bawah huruf digunakan untuk menjaga pelafalan mendekati bunyi Arab asli.
f. Nama-nama orang, kota, atau istilah yang sudah mapan secara internasional tetap ditulis dalam bentuk lazim, misalnya:
Muhammad, bukan Muḥammad
Mecca, bukan Makkah
Quran, boleh digunakan dalam konteks populer, tetapi al-Qurʾān tetap dipakai dalam konteks akademik.
g. Kata sandang al- (

g. Kata sandang al- (ٱلـ) ditulis kecil dan dihubungkan dengan tanda hubung, misalnya: al-Qurʾān, al-Raḥmān, al-ʿArabiyyah.
 
1.      Huruf Hijaiyah dan Padanan Latinnya dalam ALA–LC

2.      Kaidah Penulisan Umum
a. Vokal Pendek
Fathah (ــَ) = a
Kasrah (ــِ) = i
Dhammah (ــُ) = u
 
b. Vokal Panjang (Maddah)
Fatḥah + alif (ــَا) → ā
Kasrah + ya (ــِي) → ī
Dhammah + wau (ــُو) → ū
 
c. Diftong (gabungan dua huruf vokal)
aw → أَوْ (misalnya: qawlun = qawl)
ay → أَيْ (misalnya: dayn = dayn)
 
d. Ta Marbūṭah (ة)
Bila mati (di akhir kata) → h
Bila hidup (diikuti harakat) → t
 
e. Syaddah (tasydid)
Huruf digandakan, tanpa tanda tambahan. Contoh: رَبٌّ → rabbun
 
f. Hamzah dan ‘Ain
Hamzah (ء) = ʾ
‘Ain (ع) = ʿ
 
g. Kata Sandang “Al-” (ٱلـ)
Ditulis al-, selalu dihubungkan dengan tanda hubung.
Bila diikuti huruf syamsiyyah, huruf “l” tetap ditulis tetapi tidak dibaca ganda. Contoh: al-shamsu (الـشَّمْس), bukan ash-shams.
 
3.      Kesamaan dan Perbedaan antara SKB Indonesia dan ALA–LC
a. Kesamaan
1). Keduanya sama-sama menjaga pelafalan asli huruf Arab.
2). Sama-sama menggunakan macron (ā, ī, ū) untuk vokal panjang.
3). Sama-sama menulis huruf gandanya (tasydid) dengan penggandaan.
4). Sama-sama menuliskan ta marbūṭah sesuai hidup-matinya.
 
b. Perbedaan
1). ALA–LC menggunakan simbol ilmiah (ʿ dan ʾ) untuk huruf ‘ain dan hamzah, sedangkan SKB menggunakan apostrof (‘) biasa.
2). ALA–LC menggunakan “th”, “dh”, “sh”** untuk bunyi tertentu, sementara SKB menggunakan bentuk khusus seperti “ṡ”, “ẓ”, atau “sy”.
3). ALA–LC lebih konsisten secara fonetik internasional, sedangkan SKB disesuaikan dengan ejaan dan kebiasaan bahasa Indonesia.
4). SKB mengutamakan kemudahan membaca bagi masyarakat umum, sedangkan ALA–LC menekankan akurasi linguistik ilmiah.
5). ALA–LC menggunakan tanda hubung (–) pada kata sandang al-, sementara SKB hanya menulis kapital pada “Al” di awal kata.
 
4.      Contoh Perbandingan: SKB Indonesia dan ALA–LC Internasional

Sistem transliterasi ALA–LC memberikan standar global yang memungkinkan teks Arab dapat ditulis, dicari, dan dikutip secara seragam di seluruh dunia. Sementara itu, sistem SKB Indonesia 1987 memastikan transliterasi tetap mudah diucapkan dan dipahami masyarakat lokal.
Keduanya saling melengkapi: SKB cocok untuk pendidikan nasional, sedangkan ALA–LC penting untuk penelitian internasional dan akademik.
 
E. Pentingnya Transliterasi bagi Pelajar Bahasa Arab
1). Membantu memahami teks Arab sebelum mahir membaca huruf hijaiyah.
2). Memudahkan penulisan istilah Arab dalam karya tulis ilmiah dan tugas sekolah.
3). Menumbuhkan kesadaran bahwa bahasa Arab memiliki kaidah ilmiah dan internasional.
4). Menjadi jembatan antara pelajar Indonesia dan literatur Arab dunia.

Posting Komentar

Pilihan Editor

Hendrii · aishwa nahla