Bab 3: Iman kepada Malaikat

BAB III
IMAN KEPADA MALAIKAT

A. Makna Dasar Iman Kepada Malaikat

Kata Malaikat berasal dari bahasa Arab, Quraish Shihab (2013) menjelaskan, malaikat merupakan bentuk jamak dari malak. Ada ulama yang berpendapat bahwa kata malak terambil dari kata alaka, malakah yang berarti mengutus atau perutusan/risalah. Malaikat adalah utusan-utusan Tuhan untuk berbagai fungsi. Mengenai jumlah malaikat, Quriash Shihab memaparkan bahwa jumlah malaikat tidak terhitung, kecuali Allah sendiri yang mengetahui. Namun, sejumlah riwayat hanya memberikan gambaran jumlah malaikat di sebuah tempat. Seperti hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim berikut: “Neraka Jahannam pada hari kiamat memiliki tujuh puluh ribu kendali, setiap kendali ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat.” (H.R. Muslim)

Iman kepada malaikat merupakan rukun iman kedua setelah iman kepada Allah. Yang dimaksud dengan iman kepada malaikat ialah mempercayai bahwa Allah itu mempunyai suatu makhluk bernama malaikat, yang selalu taat kepadanya dan mengerjakan dengan sebaik-baiknya tugas yang diberikan Allah kepada mereka.

Iman kepada malaikat mencakup empat perkara :

1.      Iman dengan adanya mereka, mengimani malaikat yang kita ketahui namanya, seperti Jibril As.. Sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, kita imani secara ijmal (global)

2.      Iman dengan sifat-sifat mereka yang kita ketahui seperti sifat Jibril As. dimana Nabi telah menggambarkan bahwa beliau Saw. telah melihat Jibril As. dengan sifatnya yang asli yang ternyata mempunyai enam ratus sayap yang dapat menutupi langit antara timur dan barat.

3.      Kadang kala dengan perintah Allah Swt. malaikat dapat berubah (menjelma) dalam bentuk seorang lelaki, seperti yang telah terjadi dalam diri Jibril As. ketika diutus oleh Allah Swt. kepada Maryam lalu Jibril As. menjelma menjadi manusia yang utuh (sempurna).

4.      Iman dengan apa yang kita ketahui tentang pekerjaan-pekerjaan mereka yang mereka tunaikan berdasarkan perintah Allah Swt. seperti mensucikan-Nya (bertasbih) dan beribadah kepada-Nya siang dan malam tanpa kenal lelah dan tanpa kenal henti. 

Malaikat itu tidak sama dengan manusia di dalam sifat-sifat dan pekerjaannya. Sifat-sifat malaikat meliputi ; 1) bukan laki-laki dan bukan perempuan, 2) tidak makan dan tidak pula minum, 3) dalam keadaan biasa tidak dapat dilihat dengan mata kepala, 4) malaikat-malaikat itu sebangsa Ruh saja. Kita tidak diwajibkan mengetahui hakekat dzat malaikat itu. Cukuplah kita mempercayai saja akan keberadaannya, dengan sifat-sifat yang tersebut dalam Al-Qur’an. Para Nabi dan Rasul, dapat mencapai malaikat pembawa wahyu yang terkadang menjelma sebagai manusia dengan kehendak Allah, dan terkadang pun tidak bertubuh seperti manusia. Keterangan-keterangan tentang Malaikat dan sifat-sifatnya itu di dalam Al-Qur’an banyak sekali. Antara lain ialah :

نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ۙ ١٩٣ عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ ۙ ١٩٤

“Turunlah Ar-Ruhul Amin (Jibril As.) dengan membawa Al-Wur’an di hatimu, supaya engkau menjadi salah seorang dari pada orang-orang yang memberikan peringatan”. (QS. asy-Syu’ara’: 193-194)

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ١٨

”Tidak sesuatu perkataan yang dikatakan: melainkan mesti ada malaikat yang mengawasi dan meneliti”. (QS. Qaaf : 18)

۞ قُلْ يَتَوَفّٰىكُمْ مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ تُرْجَعُوْنَ ࣖ ١١

“Katakanlah kamu akan dinantikan oleh malaikat maut yang diwajibkan (mencabut) segala nyawa kamu: kemudian kepada Tuhanmu ingatlah kamu dikembalikan”. (QS. As-Sajadah: 11)

 

Bilangan Malaikat itu banyak sekali, dan hanya diketahui oleh Allah semata. Masing-masing memiliki nama dan pekerjaan sendiri-sendiri. Nama-nama itulah yang dihubungkan dengan pekerjaannya. Pekerjaan atau tugas malaikat disebutkan dalam Al Qur’an dan dalam keterangan Rasul Saw. ada banyak sekali di antaranya sebagai berikut : 1) Membawa wahyu dari Allah Swt. untuk disampaikan kepada para Nabi dan Rasul. Malaikat ini dinamakan Ar-Ruhul-Amin atau Jibril As. atau Ar-Ruhul-Qudus. 2) Membawa rezeki kepada semua makhluk. Malaikat ini dinamakan malaikat Mikail. 3) Meniup sangkakala (trompet) di hari kiamat. Malaikat ini dinamakan malaikat Israfil. 4) Mencabut nyawa dari tubuh makhluk. Malaikat ini dinamakan malaikat Izrail. 5) dan 6) Mengawasi dan meneliti pekerjaan manusia. Malaikat ini dinamakan malaikat Rakib dan Atid. 7) dan 8) Menanyakan tiap-tiap orang dalam kubur . Malaikat ini dinamakan malaikat Mungkar dan Nakir. 9) Menjaga neraka. Malaikat ini dinamakan malaikat Malik atau Zabaniyah. 10) Menjaga surga. Malaikat ini dinamakan malaikat Ridwan.

 

B.     B. Wujud dan Tugas Malaikat

Seperti yang telah dikemukakan bahwa malaikat adalah makhluk halus, makhluk ghaib. Karena itu bersifat abstrak dan immaterial. Selanjutnya karena keghaibannya ini, maka persoalan yang menyangkut malaikat tidak dapat diketahui oleh manusia dengan akal kemanusiaannya dan hanya dapat diketahui dengan jalan pengkhabaran yang diterima dari Allah sebagaimana yang disebuntukan dalam Al-Qur’an dan Hadis-hadis Rasulullah Saw yang shahih.

Menurut sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah Ra. malaikat diciptakan Tuhan dari Nur (cahaya). Sedangkan jin dari nar (api). Dan sesuai dengan hal ini, maka mereka tidak makan dan minum. Juga mereka bukan berjenis laki-laki dan juga bukan berjenis wanita.

Mereka mempunyai keistimewaan, dapat menjelma ke alam materi, misalnya menjelma menjadi manusia. Pernah misalnya malaikat Jibril As. menyerupakan dirinya sebagai seorang sahabat Nabi Muhammad Saw., yang muda dan baik sikapnya, yang bernama Dihyah Al-kalbi.

Kenyataan bahwa sesuatu yang tidak bisa dilihat bukan berarti itu tidak ada karena kemampuan mata manusia sangat terbatas. Contoh sederhana yaitu kita meyakini keberadaan udara, meskipun keberadaannya tidak dapat kita lihat. Berbeda dengan pendapat di atas, sebagian besar ulama berpendapat bahwa pembahasan tentang malaikat termasuk masalah sam’iyat. Artinya, iman kepada malaikat ini terbatas berdasar dalil nas saja, tidak bisa dirasionalkan. Akal manusia tidak mampu menjangkau pengetahuan alam gaib, semisal malaikat ini. Meskipun demikian, sejak dahulu telah dipercaya bahwa malaikat itu ada. Bahkan, pada masa jahiliyah pun malaikat sudah dipercaya keberadaannya dan justru dianggapnya sebagai anak Tuhan yang harus disembah.

Berbeda dengan manusia dan jin, malaikat tidak ada yang maksiat atau durhaka kepada Tuhan. Mereka semuanya taat tanpa terkecuali, mengerjakan dan mengabdi kepada apa saja yang diperintahkan oleh Allah. Demikian diterangkan dalam surat At-tahrim ayat 6 :

لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ٦

“ mereka tidak mendurhakai perintah-perintah Allah dan mereka kerjakan segala apa saja yang diprintahkan kepada mereka” (QS. At-Tahrim : 6)

Pengabdian mereka itu kepada Tuhan terjadi secara otomatis, sebab mereka diciptakan semata-mata memang dengan tugas mengabdi kepada-Nya, dan mereka juga tidak diberi nafsu seperti makhluk yang lain. Sebagian ulama menyebuntukan bahwa malaikat juga memiliki keinginan akan tetapi semua keinginannya adalah beribadah kepada Allah Swt.

Nama-nama malaikat dan tugas mereka masing-masing:

1.      Malaikat Jibril As.: sebagai utusan untuk menyampaikan wahyu Tuhan kepada Nabi Nabi/Rasul-Rasul-NYA. Jibril As. kadang-kadang disebut juga dengan Ruhul Qudus (QS. Al-Baqarah 87), Ruhul Amin (QS. Asy-syuara 193) dan Namus.

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ وَقَفَّيْنَا مِنْۢ بَعْدِهٖ بِالرُّسُلِ ۖ وَاٰتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنٰتِ وَاَيَّدْنٰهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ اَفَكُلَّمَا جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌۢ بِمَا لَا تَهْوٰىٓ اَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ ۚ فَفَرِيْقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيْقًا تَقْتُلُوْنَ ٨٧

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan Rasul-Rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong: maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh” (QS. Al-Baqarah 87).

2.      Malaikat Mika’il: menyampaikan pembagian rizqi.

3.      Malaikat Israfil: meniup serunai sangkakala (terompet) dalam 3 peristiwa, yaitu pada saat terjadinya hari kiamat, pada saat kebangkitan manusia dari kubur, dan pada waktu manusia diadili oleh Tuhan. Hal ini diungkapkan melalui firman-Nya:

وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَاِذَا هُمْ مِّنَ الْاَجْدَاثِ اِلٰى رَبِّهِمْ يَنْسِلُوْنَ ٥١ قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا ۜهٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ ٥٢ اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ ٥٣ فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا وَّلَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ٥٤

Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata, "Aduhai, celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?" Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-Rasul-(Nya). Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu tidak dibalasi kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.

4.      Malaikat Izra’il: mencabut nyawa manusia dan makhluk lainya apabila telah tiba (QS. As-Sajdah 11, An-Nahl 32, An-Nisa 97)

۞ قُلْ يَتَوَفّٰىكُمْ مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ تُرْجَعُوْنَ ࣖ ١١

Katakanlah: "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan". (QS. As-Sajdah : 11)

5.      Malaikat Ridwan: bertugas menjaga surga.

6.      Malaikat Malik: bertugas menjaga neraka.

وَلَوْ تَرٰٓى اِذْ يَتَوَفَّى الَّذِيْنَ كَفَرُوا الْمَلٰۤىِٕكَةُ يَضْرِبُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَاَدْبَارَهُمْۚ وَذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ ٥٠

Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar", (tentulah kamu akan merasa ngeri). (QS. Al-Anfal :50)

7.      Malaikat Munkar Nakir: bertugas melakukan pemeriksaan pendahuluan kepada orang yang selesai dikuburkan. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada manusia di alam kubur (QS. Yaasiin: 51) di antara pertanyaan yang diajukan ialah siapa Tuhanmu, siapa Nabimu, ke mana arah kiblatmu, dan apa yang engkau jadikan pedoman hidup. Terjawabnya pertanyaan yang diajukan sangat dipengaruhi oleh jalan yang ditempuh di dunia. Bagi muslim yang taat merasa mudah menjawabnya, sebagaimana hadis Nabi Saw. : "Seorang muslim bila ditanya di alam kubur (dengan mudah memberi) kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan-Nya. Itulah maksud firman Allah : "Allah menegakkan iman orang-orang mukmin dengan ucapan yang teguh di kehidupan dunia dan akhirat” (QS. Ibrahim: 27). " (H.R. Bukhari Muslim).

8.      Malaikat Raqib dan Atid bertugas menjaga dan mencatat perbuatan-perbuatan manusia. Raqib disebelah kanan mencatat amal baik dan Atid disebelah kiri mencatat amal buruk. (QS. Qaf: 17)

اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ ١٧

(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.

 

C.    C. Perbedaan malaikat dengan jin dan iblis

Selain manusia dan malaikat Allah menciptakan makhluk lainnya di antaranya seperti Jin, Setan dan iblis. Ada perbedaan antara Jin, Setan dan Iblis dengan Malaikat. Jika dilihat dari penciptaannya jelas berbeda yakni jika Malaikat terbuat dari cahaya atau nur maka Jin diciptakan dari api (Nar). Kemudian untuk sifatnya juga sangat berbeda, jika malaikat memiliki sifat selalu taat dan tunduk pada setiap perintah Allah lain halnya dengan jin ada yang tunduk dan ada yang tidak, karena Jin ada yang muslim dan kafir.

Malaikat tidak mempunyai hawa nafsu tidak seperti Jin. Seperti yang dikatakan di atas bahwa ada jin muslim dan jin kafir yang tentunya jin kafir akan selalu menggoda manusia untuk mengerjakan apa yang di larang oleh Allah Swt. Malaikat akan senantiasa berbuat baik kepada manusia dan tidak akan mencelakakannya selama manusia tersebut berbuat baik, sedangkan setan atau iblis akan selalu mencelakakan manusia sampai dengan hari kiamat.

Seperti telah disebutkan di atas, kalau malaikat merupakan makhluk yang taat kepada perintah Allah, maka ada jenis makhluk yang durhaka kepada Allah, yaitu iblis. Al-Quran menyatakan bahwa iblis ini termasuk golongan jin. Dalam hal ini Allah Swt. berfirman :

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ اَمْرِ رَبِّهٖۗ اَفَتَتَّخِذُوْنَهٗ وَذُرِّيَّتَهٗٓ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِيْ وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّۗ بِئْسَ لِلظّٰلِمِيْنَ بَدَلًا ٥٠

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patuntukah kamu mengambil dia dan turanan turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (QS. al-Kahfi (18): 50).

Menurut Maulana Muhammad Ali salah satu pengertian jin yang digunakan dalam al-Quran adalah untuk menunjuk pada makhluk halus yang tidak dapat ditangkap oleh indera biasa. Makhluk ini diciptakan dari api, dan tugasnya adalah merangsang keinginan nafsu rendah manusia. Al-Quran menyatakan :

وَالْجَاۤنَّ خَلَقْنٰهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَّارِ السَّمُوْمِ ٢٧

“Dan jin, Kami ciptakan dari api yang sangat panas.” (QS. al-Hijr (15): 27)

Sebagaimana halnya manusia, jin juga terkena kewajiban untuk menjalankan syariah (QS. al-An’am (6): 130).

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنْكُمْ يَقُصُّوْنَ عَلَيْكُمْ اٰيٰتِيْ وَيُنْذِرُوْنَكُمْ لِقَاۤءَ يَوْمِكُمْ هٰذَاۗ قَالُوْا شَهِدْنَا عَلٰٓى اَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ اَنَّهُمْ كَانُوْا كٰفِرِيْنَ ١٣٠

“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: "Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri", kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.”

Adapun Rasul yang harus diikutinya adalah seperti Rasul yang diikuti manusia. Oleh karena itu, di antara jin pun terdapat kelompok-kelompok yang perangainya baik dan buruk. Sebagian ulama mengatakan bahwa di antara golongan jin ini ada yang Muslim dan ada yang kafir. Hanya saja kebanyakan dari golongan jin ini kafir dan memiliki perangai yang buruk. Allah Swt. berfirman :

وَّاَنَّا مِنَّا الصّٰلِحُوْنَ وَمِنَّا دُوْنَ ذٰلِكَۗ كُنَّا طَرَاۤىِٕقَ قِدَدًاۙ ١١

Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS. al-Jin [72]: 11).

Makhluk gaib yang lain adalah yang disebut Iblis dan Setan. Menurut ahli bahasa, kata Iblis berasal dari kata ablasa yang berarti putus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah. Seperti telah disebuntukan di muka, Iblis diciptakan dari api seperti halnya jin. Para ulama mengatakan bahwa Iblis adalah nenek moyang dari seluruh setan. Dari segi bahasa, setan atau bentuk jamaknya syayathin, memiliki arti setiap sesuatu yang keterlaluan, baik dari golongan manusia atau jin. Adapun yang dimaksudkan dalam ajaran Islam, setan adalah sebutan untuk kelompok yang keterlaluan dari bangsa jin.

Iblis diberi umur yang demikian panjang karena permintaannya kepada Allah. Permintaan ini berkaitan dengan peristiwa penolakannya untuk memberikan hormat kepada Adam, sehingga iblis dan juga setan itu dilaknat oleh Allah. Setelah peristiwa itu mereka berjanji untuk tidak berhenti mengajak dan menggoda manusia untuk menyimpang dari ajaran Allah. Pada saat yang bersamaan disebuntukan pula bahwa Iblis juga mempunyai keturunan. Sebagaimana disebuntukan dalam al-Kahfi: 50.

Sebagaimana Allah mengirimkan malaikat kepada manusia untuk memberikan petunjuk dan mengokohkannya, maka Allah juga telah menciptakan setan bagi manusia. Adapun tugas utama setan ini adalah menggoda dan menjerumuskan manusia dalam kehidupan yang sesat. Setan berusaha menampakkan kepada manusia hal-hal yang buruk seolah-olah sebagai perbuatan yang baik. Oleh karena tugasnya yang demikian, ketika ada orang yang cenderung dalam dirinya melakukan perbuatan negatif, maka keberadaan setan menjadi semakin kuat.

Karena demikian kuatnya iblis dan setan menggoda manusia, Allah menyebut mereka sebagai musuh yang nyata. Untuk menghadapi dahsyatnya bujuk rayu dan godaan setan, cara yang bisa dilakukan adalah dengan memperkuat keimanan kita kepada Allah dan malaikat yang senantiasa mengarahkan kepada kebaikan. Keimanan akan memberikan cahaya cemerlang dalam jiwa dan memenuhi hati nurani dengan nur yang gilang-gemilang. Jikalau hati sudah cemerlang dan jiwa sudah bersinar dengan nur keimanan, maka pasti terhapuslah segala macam godaan dan rayuan setan itu.

 

D.    D. Malaikat dan kehidupan manusia

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap diperlihatkan ketakjuban dan keajaiban yang datang pada diri seseorang. Dalam kehidupan, tidak jarang pula manusia terbungkus dalam berbagai bentuk. Seseorang tidak akan tahu rahasia di balik semua itu. Yang jelas, salah satu kemampuan malaikat bisa mengubah diri menjadi manusia.

Dalam Al-Qur’an tentang keberadaan para Malaikat, Allah berfirman:

وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ ١٠ كِرَامًا كٰتِبِيْنَۙ ١١ يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ ١٢

“Sesungguhnya atas anda ada (Malaikat-Malaikat) yang mengawasi (segala perbuatan), yang mulia dan selalu mencatat (perbuatan-perbuatan tersebut). Mereka mengetahui apa yang anda kerjakan (baik perbuatan maupun perkataan yang baik dan buruk)”. (QS. al-Infithar: 10-12)

Menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dalam bukunya Yang Halus dan Tak Terlihat: Malaikat dalam Al-Qur’an, 2013, menerangkan bahwa Ibadah zikir dan shalawat secara berjamaah merupakan media (washilah) yang bisa mengumpulkan malaikat sekaligus, selain manusia. Begitu mulianya manusia yang telaten untuk menghadiri setiap majelis dizkir, shalawat, dan ilmu. Sebab malaikat-malaikat hadir di majelis zikir. Setelah selesai, malaikat-malaikat menyampaikan bahwa “kami (malaikat) habis hadir di majelis zikir”. Kemudian, Allah berfirman, "Limpahkan rahmat bagi mereka semua. Ampuni mereka semua". Tetapi malaikat berkata, “Ya Allah, ada orang yang hadir tapi tujuannya bukan berzikir”. Allah kembali berfirman, “ampuni mereka, karena mereka mendekat kepada orang yang berzikir”.

Riwayat singkat tersebut menggambarkan bahwa makhluk bernama malaikat begitu dekat di setiap lini kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan tujuan mereka diciptakan oleh Allah. Seorang Muslim pun wajib mempercayai adanya malaikat sesuai rukun iman kedua. Sebagai seorang Muslim yang wajib mempercayai keberadaan malaikat, penting bagi manusia mengenal makhluk yang diciptakan Allah dari nur (cahaya) ini. Namun, tentu mengenal Allah menjadi hal utama bagi seorang hamba. Dalam hal ini, malaikat yang turut berinteraksi langsung dalam realitas kehidupan manusia bisa menjadi pemandu mengenal Allah lebih jauh. Mengenal malaikat, tidak terlepas dari makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang diimani oleh semua agama.

Di antara Usul al-Iman as-Sittah adalah kewajiban beriman kepada para Malaikat Allah. Beriman kepada para Malaikat artinya meyakini bahwa mereka adalah hamba hamba Allah yang mulia. Para Malaikat tersebut bukan sebagai bintang atau planet planet yang berada di arah langit. Tetapi mereka adalah para makhluk Allah yang termasuk dari Hajm Lathif (tidak dapat dipegang oleh tangan). Mereka bukan dari jenis laki-laki ataupun perempuan, mereka tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak nikah, serta tidak berketurunan. Mereka tidak pernah berbuat dosa kepada Allah sedikitpun. Mereka selalu menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah atas mereka. Sebagaimana yang disebuntukan dalam surat at-Tahrim: 6.

Allah menjadikan tabi’at para Malaikat tersebut hanya untuk selalu taat kepada Nya. Namun begitu, mereka taat bukan karena terpaksa (majbur), karena mereka memiliki ikhtiar. Akan tetapi ikhtiar mereka, - dengan kehendak Allah-, hanya dalam ketaatan-ketaatan kepada-Nya saja. Maka sama sekali tidak ada ikhtiar pada diri mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Dan mereka sama sekali tidak merasa bosan atau lelah dalam beribadah kepada Allah.

Para Malaikat tersebut tidak boleh disebut sebagai pembantu- pembantu Allah (A’wan Allah). Karena Allah Maha Kaya atas seluruh alam ini. Allah yang menciptakan segala sesuatu maka Allah tidak membutuhkan kepada siapapun dari makhluk-makhluk Nya ini. Allah berfirman:

وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ ٩٧

“... maka sesungguhnya Allah Maha Kaya atas seluruh alam”. (QS. Ali ‘Imran: 97).

Allah menciptakan para Malaikat bukan untuk mendapatkan bantuan atau mengambil manfa’at dari mereka. Allah menciptakan para Malaikat dengan tujuan berbagai hikmah, baik hikmah tersebut kita ketahui atau tidak. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. :

خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api -murni- tidak berasap, dan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepada anda”. (H.R. Muslim)

Allah menciptakan para Malaikat dalam bentuk dan ukuran yang sangat besar, serta memiliki sayap-sayap. Malaikat Jibril As. misalnya, dalam beberapa riwayat disebuntukan bahwa beliau mempunyai 600 sayap. Satu sayap Malaikat Jibril As. ini dapat menutupi ufuk langit, dari sebelah timur hingga sebelah barat. Artinya, satu sayap Malaikat Jibril As. tersebut dapat menutupi alam dunia ini.

Dijelaskan pula dalam sebuah hadis tentang gambaran besarnya para Malaikat Hamalah al-Arsy, yaitu Malaikat-Malaikat pengangkat Arsy, bahwa jarak antara cuping telinga dan pundak mereka adalah jarak perjalanan 700 tahun dengan kecepatan terbang seekor burung yang sangat cepat.

Pemimpin secara ke seluruhan dari para Malaikat Allah adalah Malaikat Jibril As.. Beliau adalah Malaikat yang paling mulia. Selain Jibril As., pemimpin para Malaikat lainnya (Ru-asa’ al-Mala’ikah) adalah Mika-il, ‘Azra-il dan Israfil. Berikut ini gambaran singkat tentang malaikat yang turun ke dunia:

Dalam sebuah hadis pula dikisahkan bahwa sahabat Usaid bin Hudair ra, pada suatu malam membaca Al-Qur’an, disuatu tempat dekat kandang kudanya, tiba-tiba kudanya itu melompat. Sejenak ia diam, lalu membaca Al-Qur’an lagi dan kuda itu pun melompat lagi. Sekali lagi dia diam, lalu membaca lagi dan sekali lagi pila kuda itu melompat kembali.

Usaid yang membaca Al-Qur’an itu berkata, “Oleh karena kuda melompat-lompat terus, maka saya takut kalau-kalau kuda itu menginjak saudaraku Yahya yang sedang tidur tidak jauh dari kandang kuda itu.” Kemudian saya berdiri, menghampiri kandang kuda itu. Tiba-tiba suatu benda bagaikan naungan (awan) yang didalamya ada beberapa pelita bercahaya, naik ke atas dan terus naik, sehingga saya tidak dapat melihatnya lagi.

Pada pagi harinya Usaid mendatangi Rasulullah Saw., dan menceritakan kepadanya semua yang dialaminya semalam. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Wahai Usaid, naungan (awan) yang didalamnya ada beberapa pelita bercahaya itu adalah malaikat yang sengaja hadir untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang kamu baca.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

 

E.     E. Hikmah dan Implikasi beriman pada Malaikat

Hikmah Adanya Malaikat, selain keberadaannya dapat dibuktikan secara Nakli, yaitu dengan merujuk pada dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis, juga dapat diketahui secara Akli (dapat diterima nalar). Keberadaan malaikat bisa dibuktikan dengan dasar dalil Akli di antaranya berdasarkan beberapa alasan berikut ini. Segala sesuatu itu ada berdasarkan adanya sebab dan akibat sesuatu.

a)      Sampainya wahyu kepada para Rasul dan para Nabi, yaitu karena wahyu tersebut telah disampaikan oleh Malaikat Jibril As.. Hal ini membuktikan bahwa malaikat, termasuk Malaikat Jibril As. itu ada.

b)      Wafatnya makhluk dengan dicabut rohnya. Ini membuktikan bahwa ada malaikat yang bertugas mencabut nyawa.

c)      Penjagaan manusia dari kejahatan jin dan setan selama hidupnya. Jin dan setan hidup di sekitar manusia dan selalu berusaha menggodanya, meskipun manusia tidak bisa melihat mereka. Ini membuktikan bahwa ada penjaga yang selalu menjaga manusia dari kejahatan mereka, yaitu malaikat.

Penerapan keimanan kepada Malaikat dalam kehidupan Sehari-hari, akan berdampak sikap positif bagi diri kita dalam menjalani hidup sehari-hari. Bagaimana penerapan keimanan kepada Malaikat dalam kehidupan sehari-hari? Sikap positif tersebut dapat ditunjukkan dengan beberapa hal berikut.

1.      Gemar melaksanakan shalat berjama’ah

Hal ini disebabkan adanya keyakinan bahwa para malaikat selalu menghadiri shalat berjama’ah. Rasulullah Saw. bersabda:

“Jikalau imam mengucapkan ‘gairil magdubi ‘alaihim waladdallin,’ maka ucapkanlah ‘Amin’, karena sesungguhnya para malaikat itu pun mengucapkan amin bersamaan dengan ucapan aminnya imam. Maka barang siapa yang bacaan aminnya bersamaan dengan bacaan aminnya para malaikat, tentu akan diampuni segala dosanya yang telah lalu.” (H.R. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).

2.      Gemar berperilaku dermawan

yakni membelanjakan harta untuk kebaikan, seperti menyantuni anak-anak yatim, telantar, dan member bantuan harta kepada para fakir miskin. Hal ini disebabkan antara lain adanya keyakinan bahwa malaikat selalu mendoakan orang yang berperilaku dermawan, agar hartanya yang dibelanjakan dijalan Allah Swt. tersebut menjadi berkah. Rasulullah Saw. bersabda:

“para setiap pagi hamba Allah (manusia) pasti disertai dua malaikat yang berdoa. Yang satu berkata, ‘Ya Allah, berikanlah penggantian terhadap orang yang gemar membelanjakan hartanya untuk kebaikan (dermawan).’ sedangkan malaikat lainnya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kerusakan kepada orang yang enggan membelanjakan hartanya untuk bersedekah (kikir,’ sedangkan malaikat lainnya berdoa.” (H.R. Muttafaq ‘alaihi)

3.      Gemar berperilaku menuntut ilmu

baik ilmu pengetahuan umum, maupun ilmu pengetahuan tentang Islam. Kemudian mengerjakannya kepada orang lain. Rasulullah Saw. bersabda:

“Sesungguhnya para malaikat itu akan meletakkan sayap-sayapnya terhadap penuntut ilmu, karena menyenangi apa yang dilakukannya (mencari ilmu).” (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi)

4.      Berperilaku gemar membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an termasuk ibadah qauliyah (ibadah yang berupa ucapan) yang paling utama dibandingkan dengan ibadah-ibadah qauliyah yang lainnya. Tatkala Al Qur’an dibacakan, malaikat akan hadir dan mendengarkan.

Dalam Sahih Muslim disebuntukan sebuah hadis, Rasulullah bersabda:

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya bersama, melainkan turun ketenangan kepada mereka dan rahmat akan menaungi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di kalangan makhluk yang dimuliakanNya.” (H.R. Muslim)

5.      Bersikap Rendah Hati

Sikap rendah hati ditunjukkan karena kita menyadari bahwa selain diri kita ada makhluk yang telah diciptakan Allah. Bahkan, pada diri makhluk tersebut ada kelebihan sifat-sifat tertentu yang tidak kita miliki. Oleh karena itu, kita tidak boleh bersikap sombong. Kita dilarang bersikap sesuka hati dalam menjalani hidup karena merasa sebagai makhluk terhebat dan termulia.

6.      Terdorong untuk Menggali Pengetahuan tentang Malaikat

Menggali pengetahuan tentang malaikat harus mengacu pada kedua sumber pokok dalam Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadis. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang benar tentang malaikat akan terhindar dari kekeliruan dalam mengimaninya. Misalnya pengetahuan bahwa malaikat merupakan sesama makhluk Allah, menunjukkan bahwa malaikat tidak berhak untuk disembah atau dimintai pertolongan.

7.      Berhati-hati dalam Berbuat

Seseorang yang beriman kepada malaikat senantiasa berhati-hati dalam berbuat. Ia akan menyadari bahwa di sekitarnya ada malaikat yang bertugas mengawasi dan mencatat amal. Malaikat sangat teliti sehingga tidak mungkin ada amal yang luput dari pencatatannya. Dengan demikian, kita tidak akan berbuat seenaknya sendiri, tetapi penuh dengan pertimbangan sehingga akan mendapatkan catatan yang baik dari malaikat.

8.      Giat dalam Berusaha

Menyadari bahwa malaikat juga ada di sekitar menyebabkan kita bersikap optimis. Misalnya dalam urusan rezeki ada malaikat bertugas membagikan rezeki kepada kita. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk mudah menyerah dan khawatir bahwa Allah tidak akan membalas usaha dan kerja keras kita.

9.      Terdorong untuk Selalu Berbuat Positif

Seseorang yang di dunia menjalankan perbuatan baik, akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah. Di akhirat kelak, seseorang akan dibalas sesuai dengan amal dan perbuatan yang dilakukan di dunia. Agar mendapatkan balasan yang baik di akhirat, kita pun dituntut untuk berbuat baik ketika di dunia.

 

Posting Komentar

Pilihan Editor

Hendrii · aishwa nahla