Kata
Malaikat berasal dari bahasa Arab, Quraish Shihab (2013) menjelaskan, malaikat
merupakan bentuk jamak dari malak. Ada ulama yang berpendapat bahwa kata malak
terambil dari kata alaka, malakah yang berarti mengutus atau perutusan/risalah.
Malaikat adalah utusan-utusan Tuhan untuk berbagai fungsi. Mengenai jumlah
malaikat, Quriash Shihab memaparkan bahwa jumlah malaikat tidak terhitung,
kecuali Allah sendiri yang mengetahui. Namun, sejumlah riwayat hanya memberikan
gambaran jumlah malaikat di sebuah tempat. Seperti hadis sahih yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim berikut: “Neraka Jahannam pada hari
kiamat memiliki tujuh puluh ribu kendali, setiap kendali ditarik oleh tujuh
puluh ribu malaikat.” (H.R. Muslim)
Iman
kepada malaikat merupakan rukun iman kedua setelah iman kepada Allah. Yang
dimaksud dengan iman kepada malaikat ialah mempercayai bahwa Allah itu
mempunyai suatu makhluk bernama malaikat, yang selalu taat kepadanya dan
mengerjakan dengan sebaik-baiknya tugas yang diberikan Allah kepada mereka.
Iman
kepada malaikat mencakup empat perkara :
1.
Iman
dengan adanya mereka, mengimani malaikat yang kita ketahui namanya, seperti
Jibril As.. Sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, kita imani secara ijmal
(global)
2.
Iman
dengan sifat-sifat mereka yang kita ketahui seperti sifat Jibril As. dimana
Nabi telah menggambarkan bahwa beliau Saw. telah melihat Jibril As. dengan
sifatnya yang asli yang ternyata mempunyai enam ratus sayap yang dapat menutupi
langit antara timur dan barat.
3.
Kadang
kala dengan perintah Allah Swt. malaikat dapat berubah (menjelma) dalam bentuk
seorang lelaki, seperti yang telah terjadi dalam diri Jibril As. ketika diutus
oleh Allah Swt. kepada Maryam lalu Jibril As. menjelma menjadi manusia yang
utuh (sempurna).
4. Iman dengan apa yang kita ketahui tentang pekerjaan-pekerjaan mereka yang mereka tunaikan berdasarkan perintah Allah Swt. seperti mensucikan-Nya (bertasbih) dan beribadah kepada-Nya siang dan malam tanpa kenal lelah dan tanpa kenal henti.
Malaikat
itu tidak sama dengan manusia di dalam sifat-sifat dan pekerjaannya.
Sifat-sifat malaikat meliputi ; 1) bukan laki-laki dan bukan perempuan, 2)
tidak makan dan tidak pula minum, 3) dalam keadaan biasa tidak dapat dilihat
dengan mata kepala, 4) malaikat-malaikat itu sebangsa Ruh saja. Kita tidak
diwajibkan mengetahui hakekat dzat malaikat itu. Cukuplah kita mempercayai saja
akan keberadaannya, dengan sifat-sifat yang tersebut dalam Al-Qur’an. Para Nabi
dan Rasul, dapat mencapai malaikat pembawa wahyu yang terkadang menjelma sebagai
manusia dengan kehendak Allah, dan terkadang pun tidak bertubuh seperti
manusia. Keterangan-keterangan tentang Malaikat dan sifat-sifatnya itu di dalam
Al-Qur’an banyak sekali. Antara lain ialah :
نَزَلَ
بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ۙ ١٩٣ عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ
ۙ ١٩٤
“Turunlah Ar-Ruhul Amin
(Jibril As.) dengan membawa Al-Wur’an di hatimu, supaya engkau menjadi salah
seorang dari pada orang-orang yang memberikan peringatan”. (QS. asy-Syu’ara’:
193-194)
مَا
يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ ١٨
”Tidak sesuatu perkataan
yang dikatakan: melainkan mesti ada malaikat yang mengawasi dan meneliti”. (QS.
Qaaf : 18)
۞
قُلْ يَتَوَفّٰىكُمْ مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ اِلٰى
رَبِّكُمْ تُرْجَعُوْنَ ࣖ ١١
“Katakanlah kamu akan
dinantikan oleh malaikat maut yang diwajibkan (mencabut) segala nyawa kamu:
kemudian kepada Tuhanmu ingatlah kamu dikembalikan”. (QS. As-Sajadah: 11)
Bilangan
Malaikat itu banyak sekali, dan hanya diketahui oleh Allah semata.
Masing-masing memiliki nama dan pekerjaan sendiri-sendiri. Nama-nama itulah
yang dihubungkan dengan pekerjaannya. Pekerjaan atau tugas malaikat disebutkan
dalam Al Qur’an dan dalam keterangan Rasul Saw. ada banyak sekali di antaranya
sebagai berikut : 1) Membawa wahyu dari Allah Swt. untuk disampaikan kepada
para Nabi dan Rasul. Malaikat ini dinamakan Ar-Ruhul-Amin atau Jibril As. atau
Ar-Ruhul-Qudus. 2) Membawa rezeki kepada semua makhluk. Malaikat ini dinamakan
malaikat Mikail. 3) Meniup sangkakala (trompet) di hari kiamat. Malaikat ini
dinamakan malaikat Israfil. 4) Mencabut nyawa dari tubuh makhluk. Malaikat ini
dinamakan malaikat Izrail. 5) dan 6) Mengawasi dan meneliti pekerjaan manusia.
Malaikat ini dinamakan malaikat Rakib dan Atid. 7) dan 8) Menanyakan tiap-tiap
orang dalam kubur . Malaikat ini dinamakan malaikat Mungkar dan Nakir. 9)
Menjaga neraka. Malaikat ini dinamakan malaikat Malik atau Zabaniyah. 10)
Menjaga surga. Malaikat ini dinamakan malaikat Ridwan.
B.
B. Wujud
dan Tugas Malaikat
Seperti
yang telah dikemukakan bahwa malaikat adalah makhluk halus, makhluk ghaib.
Karena itu bersifat abstrak dan immaterial. Selanjutnya karena keghaibannya
ini, maka persoalan yang menyangkut malaikat tidak dapat diketahui oleh manusia
dengan akal kemanusiaannya dan hanya dapat diketahui dengan jalan pengkhabaran
yang diterima dari Allah sebagaimana yang disebuntukan dalam Al-Qur’an dan
Hadis-hadis Rasulullah Saw yang shahih.
Menurut
sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah Ra. malaikat diciptakan Tuhan dari
Nur (cahaya). Sedangkan jin dari nar (api). Dan sesuai dengan hal ini, maka
mereka tidak makan dan minum. Juga mereka bukan berjenis laki-laki dan juga
bukan berjenis wanita.
Mereka
mempunyai keistimewaan, dapat menjelma ke alam materi, misalnya menjelma
menjadi manusia. Pernah misalnya malaikat Jibril As. menyerupakan dirinya
sebagai seorang sahabat Nabi Muhammad Saw., yang muda dan baik sikapnya, yang
bernama Dihyah Al-kalbi.
Kenyataan
bahwa sesuatu yang tidak bisa dilihat bukan berarti itu tidak ada karena
kemampuan mata manusia sangat terbatas. Contoh sederhana yaitu kita meyakini
keberadaan udara, meskipun keberadaannya tidak dapat kita lihat. Berbeda dengan
pendapat di atas, sebagian besar ulama berpendapat bahwa pembahasan tentang
malaikat termasuk masalah sam’iyat. Artinya, iman kepada malaikat ini terbatas
berdasar dalil nas saja, tidak bisa dirasionalkan. Akal manusia tidak mampu
menjangkau pengetahuan alam gaib, semisal malaikat ini. Meskipun demikian,
sejak dahulu telah dipercaya bahwa malaikat itu ada. Bahkan, pada masa
jahiliyah pun malaikat sudah dipercaya keberadaannya dan justru dianggapnya
sebagai anak Tuhan yang harus disembah.
Berbeda
dengan manusia dan jin, malaikat tidak ada yang maksiat atau durhaka kepada
Tuhan. Mereka semuanya taat tanpa terkecuali, mengerjakan dan mengabdi kepada apa
saja yang diperintahkan oleh Allah. Demikian diterangkan dalam surat At-tahrim
ayat 6 :
لَّا
يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ ٦
“ mereka tidak
mendurhakai perintah-perintah Allah dan mereka kerjakan segala apa saja yang
diprintahkan kepada mereka” (QS. At-Tahrim : 6)
Pengabdian
mereka itu kepada Tuhan terjadi secara otomatis, sebab mereka diciptakan
semata-mata memang dengan tugas mengabdi kepada-Nya, dan mereka juga tidak
diberi nafsu seperti makhluk yang lain. Sebagian ulama menyebuntukan bahwa
malaikat juga memiliki keinginan akan tetapi semua keinginannya adalah
beribadah kepada Allah Swt.
Nama-nama
malaikat dan tugas mereka masing-masing:
1.
Malaikat
Jibril As.: sebagai utusan untuk menyampaikan wahyu Tuhan kepada Nabi
Nabi/Rasul-Rasul-NYA. Jibril As. kadang-kadang disebut juga dengan Ruhul Qudus
(QS. Al-Baqarah 87), Ruhul Amin (QS. Asy-syuara 193) dan Namus.
وَلَقَدْ
اٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ وَقَفَّيْنَا مِنْۢ بَعْدِهٖ بِالرُّسُلِ ۖ
وَاٰتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنٰتِ وَاَيَّدْنٰهُ بِرُوْحِ
الْقُدُسِۗ اَفَكُلَّمَا جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌۢ بِمَا لَا تَهْوٰىٓ اَنْفُسُكُمُ
اسْتَكْبَرْتُمْ ۚ فَفَرِيْقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيْقًا تَقْتُلُوْنَ ٨٧
“Dan sesungguhnya Kami
telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya
(berturut-turut) sesudah itu dengan Rasul-Rasul, dan telah Kami berikan
bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami
memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul
membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu
menyombong: maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa
orang (yang lain) kamu bunuh” (QS. Al-Baqarah 87).
2.
Malaikat
Mika’il: menyampaikan pembagian rizqi.
3.
Malaikat
Israfil: meniup serunai sangkakala (terompet) dalam 3 peristiwa, yaitu pada
saat terjadinya hari kiamat, pada saat kebangkitan manusia dari kubur, dan pada
waktu manusia diadili oleh Tuhan. Hal ini diungkapkan melalui firman-Nya:
وَنُفِخَ
فِى الصُّوْرِ فَاِذَا هُمْ مِّنَ الْاَجْدَاثِ اِلٰى رَبِّهِمْ يَنْسِلُوْنَ ٥١
قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا ۜهٰذَا مَا وَعَدَ
الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ ٥٢ اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً
فَاِذَا هُمْ جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ ٥٣ فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ
نَفْسٌ شَيْـًٔا وَّلَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ٥٤
Dan ditiuplah sangkakala, maka
tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan
mereka. Mereka berkata, "Aduhai, celakalah kami! Siapakah yang
membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?" Inilah yang dijanjikan
(Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-Rasul-(Nya). Tidak adalah teriakan
itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada
Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kamu
tidak dibalasi kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.
4.
Malaikat
Izra’il: mencabut nyawa manusia dan makhluk lainya apabila telah tiba (QS.
As-Sajdah 11, An-Nahl 32, An-Nisa 97)
۞
قُلْ يَتَوَفّٰىكُمْ مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ اِلٰى
رَبِّكُمْ تُرْجَعُوْنَ ࣖ ١١
Katakanlah: "Malaikat maut yang
diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada
Tuhanmulah kamu akan dikembalikan". (QS. As-Sajdah : 11)
5.
Malaikat
Ridwan: bertugas menjaga surga.
6.
Malaikat
Malik: bertugas menjaga neraka.
وَلَوْ
تَرٰٓى اِذْ يَتَوَفَّى الَّذِيْنَ كَفَرُوا الْمَلٰۤىِٕكَةُ يَضْرِبُوْنَ
وُجُوْهَهُمْ وَاَدْبَارَهُمْۚ وَذُوْقُوْا عَذَابَ الْحَرِيْقِ ٥٠
Kalau kamu melihat ketika para
malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang
mereka (dan berkata): "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar",
(tentulah kamu akan merasa ngeri). (QS. Al-Anfal :50)
7.
Malaikat
Munkar Nakir: bertugas melakukan pemeriksaan pendahuluan kepada orang yang
selesai dikuburkan. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada manusia di alam
kubur (QS. Yaasiin: 51) di antara pertanyaan yang diajukan ialah siapa Tuhanmu,
siapa Nabimu, ke mana arah kiblatmu, dan apa yang engkau jadikan pedoman hidup.
Terjawabnya pertanyaan yang diajukan sangat dipengaruhi oleh jalan yang
ditempuh di dunia. Bagi muslim yang taat merasa mudah menjawabnya, sebagaimana
hadis Nabi Saw. : "Seorang muslim bila ditanya di alam kubur (dengan mudah
memberi) kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai
utusan-Nya. Itulah maksud firman Allah : "Allah menegakkan iman
orang-orang mukmin dengan ucapan yang teguh di kehidupan dunia dan akhirat”
(QS. Ibrahim: 27). " (H.R. Bukhari Muslim).
8.
Malaikat
Raqib dan Atid bertugas menjaga dan mencatat perbuatan-perbuatan manusia. Raqib
disebelah kanan mencatat amal baik dan Atid disebelah kiri mencatat amal buruk.
(QS. Qaf: 17)
اِذْ
يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ ١٧
(yaitu) ketika dua orang
malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang
lain duduk di sebelah kiri.
C.
C. Perbedaan
malaikat dengan jin dan iblis
Selain
manusia dan malaikat Allah menciptakan makhluk lainnya di antaranya seperti
Jin, Setan dan iblis. Ada perbedaan antara Jin, Setan dan Iblis dengan
Malaikat. Jika dilihat dari penciptaannya jelas berbeda yakni jika Malaikat
terbuat dari cahaya atau nur maka Jin diciptakan dari api (Nar). Kemudian untuk
sifatnya juga sangat berbeda, jika malaikat memiliki sifat selalu taat dan
tunduk pada setiap perintah Allah lain halnya dengan jin ada yang tunduk dan
ada yang tidak, karena Jin ada yang muslim dan kafir.
Malaikat
tidak mempunyai hawa nafsu tidak seperti Jin. Seperti yang dikatakan di atas
bahwa ada jin muslim dan jin kafir yang tentunya jin kafir akan selalu menggoda
manusia untuk mengerjakan apa yang di larang oleh Allah Swt. Malaikat akan
senantiasa berbuat baik kepada manusia dan tidak akan mencelakakannya selama
manusia tersebut berbuat baik, sedangkan setan atau iblis akan selalu
mencelakakan manusia sampai dengan hari kiamat.
Seperti
telah disebutkan di atas, kalau malaikat merupakan makhluk yang taat kepada
perintah Allah, maka ada jenis makhluk yang durhaka kepada Allah, yaitu iblis.
Al-Quran menyatakan bahwa iblis ini termasuk golongan jin. Dalam hal ini Allah
Swt. berfirman :
وَاِذْ
قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ
كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ اَمْرِ رَبِّهٖۗ اَفَتَتَّخِذُوْنَهٗ
وَذُرِّيَّتَهٗٓ اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِيْ وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّۗ بِئْسَ
لِلظّٰلِمِيْنَ بَدَلًا ٥٠
“Dan (ingatlah) ketika
Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka
sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia
mendurhakai perintah Tuhannya. Patuntukah kamu mengambil dia dan turanan
turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu?
Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang
zalim.” (QS. al-Kahfi (18): 50).
Menurut
Maulana Muhammad Ali salah satu pengertian jin yang digunakan dalam al-Quran
adalah untuk menunjuk pada makhluk halus yang tidak dapat ditangkap oleh indera
biasa. Makhluk ini diciptakan dari api, dan tugasnya adalah merangsang
keinginan nafsu rendah manusia. Al-Quran menyatakan :
وَالْجَاۤنَّ
خَلَقْنٰهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَّارِ السَّمُوْمِ ٢٧
“Dan jin, Kami ciptakan
dari api yang sangat panas.” (QS. al-Hijr (15): 27)
Sebagaimana
halnya manusia, jin juga terkena kewajiban untuk menjalankan syariah (QS.
al-An’am (6): 130).
يٰمَعْشَرَ
الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنْكُمْ يَقُصُّوْنَ عَلَيْكُمْ
اٰيٰتِيْ وَيُنْذِرُوْنَكُمْ لِقَاۤءَ يَوْمِكُمْ هٰذَاۗ قَالُوْا شَهِدْنَا
عَلٰٓى اَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوْا عَلٰٓى
اَنْفُسِهِمْ اَنَّهُمْ كَانُوْا كٰفِرِيْنَ ١٣٠
“Hai golongan jin dan
manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul dari golongan kamu sendiri,
yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu
terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: "Kami menjadi saksi
atas diri kami sendiri", kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka
menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang
kafir.”
Adapun
Rasul yang harus diikutinya adalah seperti Rasul yang diikuti manusia. Oleh
karena itu, di antara jin pun terdapat kelompok-kelompok yang perangainya baik
dan buruk. Sebagian ulama mengatakan bahwa di antara golongan jin ini ada yang
Muslim dan ada yang kafir. Hanya saja kebanyakan dari golongan jin ini kafir
dan memiliki perangai yang buruk. Allah Swt. berfirman :
وَّاَنَّا
مِنَّا الصّٰلِحُوْنَ وَمِنَّا دُوْنَ ذٰلِكَۗ كُنَّا طَرَاۤىِٕقَ قِدَدًاۙ ١١
Dan sesungguhnya di antara kami ada
orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian
halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS. al-Jin [72]: 11).
Makhluk
gaib yang lain adalah yang disebut Iblis dan Setan. Menurut ahli bahasa, kata
Iblis berasal dari kata ablasa yang berarti putus asa dari rahmat dan kasih
sayang Allah. Seperti telah disebuntukan di muka, Iblis diciptakan dari api
seperti halnya jin. Para ulama mengatakan bahwa Iblis adalah nenek moyang dari
seluruh setan. Dari segi bahasa, setan atau bentuk jamaknya syayathin, memiliki
arti setiap sesuatu yang keterlaluan, baik dari golongan manusia atau jin.
Adapun yang dimaksudkan dalam ajaran Islam, setan adalah sebutan untuk kelompok
yang keterlaluan dari bangsa jin.
Iblis
diberi umur yang demikian panjang karena permintaannya kepada Allah. Permintaan
ini berkaitan dengan peristiwa penolakannya untuk memberikan hormat kepada
Adam, sehingga iblis dan juga setan itu dilaknat oleh Allah. Setelah peristiwa
itu mereka berjanji untuk tidak berhenti mengajak dan menggoda manusia untuk
menyimpang dari ajaran Allah. Pada saat yang bersamaan disebuntukan pula bahwa
Iblis juga mempunyai keturunan. Sebagaimana disebuntukan dalam al-Kahfi: 50.
Sebagaimana
Allah mengirimkan malaikat kepada manusia untuk memberikan petunjuk dan
mengokohkannya, maka Allah juga telah menciptakan setan bagi manusia. Adapun
tugas utama setan ini adalah menggoda dan menjerumuskan manusia dalam kehidupan
yang sesat. Setan berusaha menampakkan kepada manusia hal-hal yang buruk
seolah-olah sebagai perbuatan yang baik. Oleh karena tugasnya yang demikian,
ketika ada orang yang cenderung dalam dirinya melakukan perbuatan negatif, maka
keberadaan setan menjadi semakin kuat.
Karena
demikian kuatnya iblis dan setan menggoda manusia, Allah menyebut mereka
sebagai musuh yang nyata. Untuk menghadapi dahsyatnya bujuk rayu dan godaan
setan, cara yang bisa dilakukan adalah dengan memperkuat keimanan kita kepada
Allah dan malaikat yang senantiasa mengarahkan kepada kebaikan. Keimanan akan
memberikan cahaya cemerlang dalam jiwa dan memenuhi hati nurani dengan nur yang
gilang-gemilang. Jikalau hati sudah cemerlang dan jiwa sudah bersinar dengan
nur keimanan, maka pasti terhapuslah segala macam godaan dan rayuan setan itu.
D.
D. Malaikat
dan kehidupan manusia
Dalam
kehidupan sehari-hari, manusia kerap diperlihatkan ketakjuban dan keajaiban
yang datang pada diri seseorang. Dalam kehidupan, tidak jarang pula manusia
terbungkus dalam berbagai bentuk. Seseorang tidak akan tahu rahasia di balik
semua itu. Yang jelas, salah satu kemampuan malaikat bisa mengubah diri menjadi
manusia.
Dalam
Al-Qur’an tentang keberadaan para Malaikat, Allah berfirman:
وَاِنَّ
عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ ١٠ كِرَامًا كٰتِبِيْنَۙ ١١ يَعْلَمُوْنَ مَا
تَفْعَلُوْنَ ١٢
“Sesungguhnya atas anda
ada (Malaikat-Malaikat) yang mengawasi (segala perbuatan), yang mulia dan
selalu mencatat (perbuatan-perbuatan tersebut). Mereka mengetahui apa yang anda
kerjakan (baik perbuatan maupun perkataan yang baik dan buruk)”. (QS.
al-Infithar: 10-12)
Menurut
Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dalam bukunya Yang Halus dan Tak Terlihat:
Malaikat dalam Al-Qur’an, 2013, menerangkan bahwa Ibadah zikir dan shalawat
secara berjamaah merupakan media (washilah) yang bisa mengumpulkan malaikat
sekaligus, selain manusia. Begitu mulianya manusia yang telaten untuk
menghadiri setiap majelis dizkir, shalawat, dan ilmu. Sebab malaikat-malaikat
hadir di majelis zikir. Setelah selesai, malaikat-malaikat menyampaikan bahwa
“kami (malaikat) habis hadir di majelis zikir”. Kemudian, Allah berfirman,
"Limpahkan rahmat bagi mereka semua. Ampuni mereka semua". Tetapi
malaikat berkata, “Ya Allah, ada orang yang hadir tapi tujuannya bukan
berzikir”. Allah kembali berfirman, “ampuni mereka, karena mereka mendekat
kepada orang yang berzikir”.
Riwayat
singkat tersebut menggambarkan bahwa makhluk bernama malaikat begitu dekat di
setiap lini kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan tujuan mereka diciptakan
oleh Allah. Seorang Muslim pun wajib mempercayai adanya malaikat sesuai rukun
iman kedua. Sebagai seorang Muslim yang wajib mempercayai keberadaan malaikat,
penting bagi manusia mengenal makhluk yang diciptakan Allah dari nur (cahaya)
ini. Namun, tentu mengenal Allah menjadi hal utama bagi seorang hamba. Dalam
hal ini, malaikat yang turut berinteraksi langsung dalam realitas kehidupan
manusia bisa menjadi pemandu mengenal Allah lebih jauh. Mengenal malaikat,
tidak terlepas dari makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang diimani oleh semua
agama.
Di
antara Usul al-Iman as-Sittah adalah kewajiban beriman kepada para Malaikat
Allah. Beriman kepada para Malaikat artinya meyakini bahwa mereka adalah hamba
hamba Allah yang mulia. Para Malaikat tersebut bukan sebagai bintang atau
planet planet yang berada di arah langit. Tetapi mereka adalah para makhluk
Allah yang termasuk dari Hajm Lathif (tidak dapat dipegang oleh tangan). Mereka
bukan dari jenis laki-laki ataupun perempuan, mereka tidak makan, tidak minum,
tidak tidur, tidak nikah, serta tidak berketurunan. Mereka tidak pernah berbuat
dosa kepada Allah sedikitpun. Mereka selalu menjalankan apa yang diperintahkan
oleh Allah atas mereka. Sebagaimana yang disebuntukan dalam surat at-Tahrim: 6.
Allah
menjadikan tabi’at para Malaikat tersebut hanya untuk selalu taat kepada Nya.
Namun begitu, mereka taat bukan karena terpaksa (majbur), karena mereka
memiliki ikhtiar. Akan tetapi ikhtiar mereka, - dengan kehendak Allah-, hanya
dalam ketaatan-ketaatan kepada-Nya saja. Maka sama sekali tidak ada ikhtiar
pada diri mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat. Dan mereka sama
sekali tidak merasa bosan atau lelah dalam beribadah kepada Allah.
Para
Malaikat tersebut tidak boleh disebut sebagai pembantu- pembantu Allah (A’wan
Allah). Karena Allah Maha Kaya atas seluruh alam ini. Allah yang menciptakan
segala sesuatu maka Allah tidak membutuhkan kepada siapapun dari
makhluk-makhluk Nya ini. Allah berfirman:
وَمَنْ
كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعٰلَمِيْنَ ٩٧
“... maka sesungguhnya
Allah Maha Kaya atas seluruh alam”. (QS. Ali ‘Imran: 97).
Allah
menciptakan para Malaikat bukan untuk mendapatkan bantuan atau mengambil
manfa’at dari mereka. Allah menciptakan para Malaikat dengan tujuan berbagai
hikmah, baik hikmah tersebut kita ketahui atau tidak. Sebagaimana sabda
Rasulullah Saw. :
خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ
مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ
“Malaikat diciptakan dari cahaya,
jin diciptakan dari api -murni- tidak berasap, dan Adam diciptakan dari apa
yang telah diterangkan kepada anda”. (H.R. Muslim)
Allah
menciptakan para Malaikat dalam bentuk dan ukuran yang sangat besar, serta
memiliki sayap-sayap. Malaikat Jibril As. misalnya, dalam beberapa riwayat
disebuntukan bahwa beliau mempunyai 600 sayap. Satu sayap Malaikat Jibril As.
ini dapat menutupi ufuk langit, dari sebelah timur hingga sebelah barat.
Artinya, satu sayap Malaikat Jibril As. tersebut dapat menutupi alam dunia ini.
Dijelaskan
pula dalam sebuah hadis tentang gambaran besarnya para Malaikat Hamalah
al-Arsy, yaitu Malaikat-Malaikat pengangkat Arsy, bahwa jarak antara cuping
telinga dan pundak mereka adalah jarak perjalanan 700 tahun dengan kecepatan
terbang seekor burung yang sangat cepat.
Pemimpin
secara ke seluruhan dari para Malaikat Allah adalah Malaikat Jibril As.. Beliau
adalah Malaikat yang paling mulia. Selain Jibril As., pemimpin para Malaikat
lainnya (Ru-asa’ al-Mala’ikah) adalah Mika-il, ‘Azra-il dan Israfil. Berikut ini
gambaran singkat tentang malaikat yang turun ke dunia:
Dalam
sebuah hadis pula dikisahkan bahwa sahabat Usaid bin Hudair ra, pada suatu
malam membaca Al-Qur’an, disuatu tempat dekat kandang kudanya, tiba-tiba
kudanya itu melompat. Sejenak ia diam, lalu membaca Al-Qur’an lagi dan kuda itu
pun melompat lagi. Sekali lagi dia diam, lalu membaca lagi dan sekali lagi pila
kuda itu melompat kembali.
Usaid
yang membaca Al-Qur’an itu berkata, “Oleh karena kuda melompat-lompat terus,
maka saya takut kalau-kalau kuda itu menginjak saudaraku Yahya yang sedang
tidur tidak jauh dari kandang kuda itu.” Kemudian saya berdiri, menghampiri
kandang kuda itu. Tiba-tiba suatu benda bagaikan naungan (awan) yang didalamya
ada beberapa pelita bercahaya, naik ke atas dan terus naik, sehingga saya tidak
dapat melihatnya lagi.
Pada
pagi harinya Usaid mendatangi Rasulullah Saw., dan menceritakan kepadanya semua
yang dialaminya semalam. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Wahai Usaid,
naungan (awan) yang didalamnya ada beberapa pelita bercahaya itu adalah
malaikat yang sengaja hadir untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang kamu
baca.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
E.
E. Hikmah
dan Implikasi beriman pada Malaikat
Hikmah
Adanya Malaikat, selain keberadaannya dapat dibuktikan secara Nakli, yaitu
dengan merujuk pada dalil-dalil Al-Qur’an dan hadis, juga dapat diketahui
secara Akli (dapat diterima nalar). Keberadaan malaikat bisa dibuktikan dengan
dasar dalil Akli di antaranya berdasarkan beberapa alasan berikut ini. Segala
sesuatu itu ada berdasarkan adanya sebab dan akibat sesuatu.
a)
Sampainya
wahyu kepada para Rasul dan para Nabi, yaitu karena wahyu tersebut telah
disampaikan oleh Malaikat Jibril As.. Hal ini membuktikan bahwa malaikat,
termasuk Malaikat Jibril As. itu ada.
b)
Wafatnya
makhluk dengan dicabut rohnya. Ini membuktikan bahwa ada malaikat yang bertugas
mencabut nyawa.
c)
Penjagaan
manusia dari kejahatan jin dan setan selama hidupnya. Jin dan setan hidup di
sekitar manusia dan selalu berusaha menggodanya, meskipun manusia tidak bisa
melihat mereka. Ini membuktikan bahwa ada penjaga yang selalu menjaga manusia
dari kejahatan mereka, yaitu malaikat.
Penerapan
keimanan kepada Malaikat dalam kehidupan Sehari-hari, akan berdampak sikap
positif bagi diri kita dalam menjalani hidup sehari-hari. Bagaimana penerapan
keimanan kepada Malaikat dalam kehidupan sehari-hari? Sikap positif tersebut
dapat ditunjukkan dengan beberapa hal berikut.
1.
Gemar
melaksanakan shalat berjama’ah
Hal ini disebabkan adanya keyakinan
bahwa para malaikat selalu menghadiri shalat berjama’ah. Rasulullah Saw.
bersabda:
“Jikalau imam mengucapkan ‘gairil
magdubi ‘alaihim waladdallin,’ maka ucapkanlah ‘Amin’, karena sesungguhnya para
malaikat itu pun mengucapkan amin bersamaan dengan ucapan aminnya imam. Maka
barang siapa yang bacaan aminnya bersamaan dengan bacaan aminnya para malaikat,
tentu akan diampuni segala dosanya yang telah lalu.” (H.R. Ahmad, Abu Daud, dan
Nasa’i).
2.
Gemar
berperilaku dermawan
yakni membelanjakan harta untuk
kebaikan, seperti menyantuni anak-anak yatim, telantar, dan member bantuan
harta kepada para fakir miskin. Hal ini disebabkan antara lain adanya keyakinan
bahwa malaikat selalu mendoakan orang yang berperilaku dermawan, agar hartanya
yang dibelanjakan dijalan Allah Swt. tersebut menjadi berkah. Rasulullah Saw.
bersabda:
“para setiap pagi hamba Allah
(manusia) pasti disertai dua malaikat yang berdoa. Yang satu berkata, ‘Ya
Allah, berikanlah penggantian terhadap orang yang gemar membelanjakan hartanya
untuk kebaikan (dermawan).’ sedangkan malaikat lainnya berdoa, ‘Ya Allah,
berikanlah kerusakan kepada orang yang enggan membelanjakan hartanya untuk
bersedekah (kikir,’ sedangkan malaikat lainnya berdoa.” (H.R. Muttafaq ‘alaihi)
3.
Gemar
berperilaku menuntut ilmu
baik ilmu pengetahuan umum, maupun
ilmu pengetahuan tentang Islam. Kemudian mengerjakannya kepada orang lain.
Rasulullah Saw. bersabda:
“Sesungguhnya para malaikat itu akan
meletakkan sayap-sayapnya terhadap penuntut ilmu, karena menyenangi apa yang
dilakukannya (mencari ilmu).” (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi)
4.
Berperilaku
gemar membaca Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an termasuk ibadah
qauliyah (ibadah yang berupa ucapan) yang paling utama dibandingkan dengan
ibadah-ibadah qauliyah yang lainnya. Tatkala Al Qur’an dibacakan, malaikat akan
hadir dan mendengarkan.
Dalam Sahih Muslim disebuntukan
sebuah hadis, Rasulullah bersabda:
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di
salah satu rumah Allah untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya bersama,
melainkan turun ketenangan kepada mereka dan rahmat akan menaungi mereka,
malaikat mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di kalangan
makhluk yang dimuliakanNya.” (H.R. Muslim)
5.
Bersikap
Rendah Hati
Sikap rendah hati ditunjukkan karena
kita menyadari bahwa selain diri kita ada makhluk yang telah diciptakan Allah. Bahkan,
pada diri makhluk tersebut ada kelebihan sifat-sifat tertentu yang tidak kita
miliki. Oleh karena itu, kita tidak boleh bersikap sombong. Kita dilarang
bersikap sesuka hati dalam menjalani hidup karena merasa sebagai makhluk
terhebat dan termulia.
6.
Terdorong
untuk Menggali Pengetahuan tentang Malaikat
Menggali pengetahuan tentang
malaikat harus mengacu pada kedua sumber pokok dalam Islam, yaitu Al-Qur’an dan
hadis. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang benar tentang malaikat akan
terhindar dari kekeliruan dalam mengimaninya. Misalnya pengetahuan bahwa
malaikat merupakan sesama makhluk Allah, menunjukkan bahwa malaikat tidak
berhak untuk disembah atau dimintai pertolongan.
7.
Berhati-hati
dalam Berbuat
Seseorang yang beriman kepada
malaikat senantiasa berhati-hati dalam berbuat. Ia akan menyadari bahwa di
sekitarnya ada malaikat yang bertugas mengawasi dan mencatat amal. Malaikat
sangat teliti sehingga tidak mungkin ada amal yang luput dari pencatatannya.
Dengan demikian, kita tidak akan berbuat seenaknya sendiri, tetapi penuh dengan
pertimbangan sehingga akan mendapatkan catatan yang baik dari malaikat.
8.
Giat
dalam Berusaha
Menyadari bahwa malaikat juga ada di
sekitar menyebabkan kita bersikap optimis. Misalnya dalam urusan rezeki ada
malaikat bertugas membagikan rezeki kepada kita. Dengan demikian, tidak ada
alasan untuk mudah menyerah dan khawatir bahwa Allah tidak akan membalas usaha
dan kerja keras kita.
9.
Terdorong
untuk Selalu Berbuat Positif
Seseorang yang di dunia menjalankan
perbuatan baik, akan mendapatkan balasan kebaikan dari Allah. Di akhirat kelak,
seseorang akan dibalas sesuai dengan amal dan perbuatan yang dilakukan di
dunia. Agar mendapatkan balasan yang baik di akhirat, kita pun dituntut untuk
berbuat baik ketika di dunia.




