Bab 3: Wali Songo

BAB III
WALI SONGO

A. Wali Songo
Wali Songo adalah sembilan tokoh ulama besar yang memelopori penyebaran agama Islam di Pulau Jawa pada abad ke-14 hingga ke-16. Mereka dikenal karena metode dakwahnya yang damai dan mampu memadukan ajaran Islam dengan budaya lokal tanpa menghilangkan tradisi masyarakat setempat.
• Asal-usul Nama: Wali (perwakilan/wali Allah), Songo (sembilan dalam bahasa Jawa).

B. Tokoh -Tokoh Wali Songo
1. Sunan Gresik (Syekh Maulana Malik Ibrahim)
Nama lengkap : Syekh Maulana Malik Ibrahim
Asal : Turki
Datang ke Jawa : Tahun 1404 M
Wafat : Tahun 882 H / 1419 M di Gresik
Julukan : Kakek Bantal
Kedudukan : Dianggap sebagai ayah Walisongo

a. Keadaan Islam sebelum kedatangannya
Sebelum Sunan Gresik datang, Islam sebenarnya sudah masuk ke Jawa walaupun masih sedikit. Hal ini dibuktikan dengan adanya makam Fatimah binti Maimun di Gresik yang bertahun 1082 M.

b. Peran dalam Dakwah
Sunan Gresik menyebarkan Islam dengan cara damai dan bijaksana, bukan dengan paksaan.
• Mengajarkan bahwa dalam Islam tidak ada perbedaan kasta, semua manusia sama derajat di hadapan Allah.
• Sangat dekat dengan rakyat kecil, terutama kaum miskin dan kasta rendah yang sering ditindas.

c. Bidang Pendidikan
Beliau mendirikan pesantren sebagai:
• Tempat belajar agama Islam,Pusat pembinaan akhlak,
• Tempat mencetak santri dan calon mubaligh untuk menyebarkan Islam ke berbagai daerah.

d. Bidang Sosial dan Ekonomi
Selain berdakwah, Sunan Gresik juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat dengan:
• Memberi bimbingan hidup kepada rakyat,
• Mengajarkan cara meningkatkan hasil pertanian,
• Menggagas pengairan sawah dan ladang dari aliran air gunung, sehingga kehidupan rakyat Gresik menjadi lebih baik.

2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Nama lengkap: Raden Rahmat
Ayah : Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
Ibu : Dewi Candrawulan
Wafat : Tahun 1478 M
Makam : Di sebelah Masjid Ampel, Surabaya

a. Peran dalam Pendidikan Islam
Sunan Ampel mendirikan Pesantren Ampel Denta di daerah Ampel, dekat Surabaya. Pesantren ini menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa Timur dan melahirkan banyak tokoh besar Islam, antara lain:
1. Raden Paku (Sunan Giri)
2. Raden Fatah – Sultan pertama Kerajaan Islam Demak
3. Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) – putranya sendiri
4. Syarifuddin (Sunan Drajat)
5. Maulana Ishak
Dari pesantren inilah Islam berkembang pesat ke berbagai daerah di Pulau Jawa.

b. Peran di Lingkungan Kerajaan
Sunan Ampel memiliki pengaruh besar di lingkungan Kerajaan Majapahit.
Bahkan Raden Fatah, putra Prabu Brawijaya (Raja Majapahit), menjadi muridnya.
Beliau dikenal sebagai perancang berdirinya kerajaan Islam di Jawa, yaitu Kesultanan Demak, dan yang mengangkat Raden Fatah sebagai Sultan Demak pertama.

c. Pembangunan Masjid Agung Demak
Pada tahun 1479 M, Sunan Ampel bersama para wali lainnya ikut mendirikan Masjid Agung Demak, yang menjadi pusat dakwah dan pemerintahan Islam saat itu.

d. Metode Dakwah
Pada awalnya, Sunan Ampel menginginkan masyarakat masuk Islam dengan ajaran yang murni, tanpa mencampur adat lama seperti:
1. Kenduri
2. Selamatan
3. Sesaji
Namun, wali lain seperti Sunan Kalijaga berpendapat bahwa adat Jawa sebaiknya tetap dipakai, tetapi diberi nilai-nilai Islam agar masyarakat tidak merasa berat meninggalkan kebiasaan lama.
Akhirnya, Sunan Ampel menghargai pendapat tersebut demi kelancaran dakwah.

3. Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim)
Nama asli: Raden Makdum Ibrahim
Ayah: Sunan Ampel
Wafat: Tahun 1525 M di Pulau Bawean

a. Keilmuan dan Pendidikan
Sunan Bonang dikenal sebagai ahli ilmu kalam dan tauhid.
Setelah menuntut ilmu ke Pasai, Aceh, beliau kembali ke Tuban, Jawa Timur dan mendirikan pondok pesantren.
Santri-santrinya datang dari berbagai daerah, menandakan besarnya pengaruh beliau dalam pendidikan Islam.

b. Metode Dakwah melalui Seni Budaya
Dalam berdakwah, Sunan Bonang menyesuaikan ajaran Islam dengan budaya masyarakat Jawa yang menyukai:
1. Wayang
2. Musik gamelan
Beliau bersama para wali lain menggunakan seni tradisional sebagai media dakwah, dengan cara:
Menyisipkan nilai-nilai tauhid dalam pertunjukan,
Mengajarkan agar hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

c. Kontribusi dalam Musik Islami
• Sunan Bonang dianggap sebagai pencipta gending pertama untuk pengembangan Islam di pesisir utara Jawa Timur.
• Lagu-lagu gamelan ciptaan para wali berisi pesan tauhid dan selalu diselipi syahadatain.
• Gamelan yang mengiringi dakwah tersebut dikenal dengan nama Sekaten, berasal dari kata syahadatain.
• Sunan Bonang juga menciptakan tembang Durma, yaitu jenis macapat yang menggambarkan suasana tegang, keras, dan penuh semangat.

4. Sunan Giri (Raden Paku)
Nama kecil: Raden Paku
Ayah: Maulana Ishak
Ibu: Dewi Sekardadu, putri Menak Samboja
Kedudukan: Anggota Dewan Walisongo

a. Peran dalam Sejarah Islam di Jawa
Sunan Giri berperan besar dalam perencanaan berdirinya Kerajaan Islam Demak dan menjadi penasihat militer dalam penyerangan ke Majapahit. Ia termasuk wali yang aktif dalam perjuangan politik dan dakwah Islam di Jawa.

b. Kepribadian dan Spiritual
Beliau dikenal sebagai pribadi yang dermawan, pernah membantu rakyat Banjar yang tertimpa musibah dengan membagikan barang dagangan.
Ia juga pernah bertapa/bertafakkur selama 40 hari 40 malam di sebuah gua untuk bermunajat kepada Allah.
Setelah mengingat pesan ayahnya sewaktu belajar di Pasai, Sunan Giri mencari daerah yang mirip dengan negeri Pasai dan akhirnya mendirikan Pesantren Giri.
Dalam waktu tiga tahun, pesantren ini sudah terkenal di seluruh Nusantara dan menjadi pusat penyebaran Islam.

c. Dakwah dan Karya Budaya
Sunan Giri sangat berjasa dalam penyebaran Islam di Jawa dan Nusantara, baik melalui perdagangan maupun bersama murid-muridnya.
Ia juga menciptakan tembang dolanan anak-anak bernuansa Islami, seperti Cublak Suweng, Jemuran, dan lainnya, sebagai media dakwah.

5. Sunan Drajat
Nama asli: Raden Syarifuddin
Nama lain: Raden Qasim
Ayah: Sunan Ampel
Ibu: Dewi Candrawati
Saudara: Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)

a. Wilayah Dakwah
Atas perintah ayahnya, Sunan Drajat berdakwah di wilayah barat Gresik, yaitu daerah antara Gresik dan Tuban.

b. Pesantren dan Perpindahan Tempat
Mendirikan pesantren di Desa Jelag dan dalam waktu singkat memiliki banyak murid.
Setahun kemudian pindah sekitar 1 km ke selatan, lalu mendirikan mushalla/surau sebagai pusat dakwah.
Setelah tiga tahun, beliau pindah lagi ke sebuah bukit untuk melanjutkan dakwah.

c. Metode Dakwah melalui Kesenian
Di tempat baru, Sunan Drajat menggunakan kesenian rakyat berupa gamelan sebagai media dakwah: Gamelan ditabuh untuk mengumpulkan masyarakat, Setelah orang berkumpul, beliau memberikan ceramah agama.

6. Sunan Kalijaga
Nama asli: Raden Sahid
Ayah: Raden Sahur, putra Temanggung Wilatika (Adipati Tuban)

a. Masa Muda
Raden Sahid dikenal sebagai pemuda yang taat kepada agama dan orang tua, tetapi ia tidak tahan melihat ketimpangan sosial. Ia pernah mengambil makanan dari gudang kadipaten untuk dibagikan kepada rakyat miskin. Karena ketahuan, ia dihukum cambuk dan akhirnya diusir oleh ayahnya.

b. Berguru kepada Sunan Bonang
Dalam pengembaraannya, Raden Sahid bertemu dengan Sunan Bonang dan menjadi muridnya. Ia mendapat tugas untuk menjaga tongkat Sunan Bonang di tepi sungai selama berbulan-bulan hingga tubuhnya berlumut. Dari peristiwa itu, ia dikenal dengan nama Sunan Kalijaga.

c. Metode Dakwah
Sunan Kalijaga menyebarkan Islam melalui kesenian, terutama:
1. Wayang
2. Sastra
Berbagai seni budaya Jawa lainnya

7. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)
Wilayah dakwah: Kudus dan sekitarnya
Keahlian utama: Ilmu fikih, tauhid, hadits, tafsir, dan logika
Julukan: Wali al-‘Ilm (wali yang sangat luas ilmunya)
Wafat: Tahun 1550 M
Makam: Di Kudus

a. Keilmuan dan Perjalanan
Sunan Kudus terkenal karena keluasan ilmunya, sehingga banyak penuntut ilmu dari seluruh Nusantara datang berguru kepadanya.
Menurut cerita, beliau pernah belajar di Baitul Maqdis (Palestina) dan berjasa memberantas wabah penyakit di sana. Karena jasanya, ia diberi penghargaan wilayah kekuasaan di Palestina, namun beliau meminta agar hadiah itu dipindahkan ke Pulau Jawa.

b. Masjid Menara Kudus
Setelah kembali ke Jawa, beliau mendirikan Masjid Al-Aqsa / Al-Manar (Masjid Menara Kudus) di daerah Loran pada tahun 1549 M.
Daerah sekitarnya kemudian dinamai Kudus, diambil dari kata Al-Quds (nama kota di Palestina).

c. Metode Dakwah Kultural
Sunan Kudus berdakwah dengan pendekatan budaya, di antaranya dengan menciptakan cerita keagamaan dan gending seperti:
1. Makumambang
2. Mijil

d. Strategi Dakwah
1. Pendekatan massa
• Membiarkan adat lama yang sulit diubah
• Menghindari konfrontasi langsung
• Tut Wuri Handayani
• Adat yang tidak sesuai dengan Islam dan mudah diubah langsung diperbaiki
2. Merangkul umat Hindu
• Melarang menyembelih sapi karena sapi dianggap suci oleh umat Hindu.
• Merangkul umat Budha
• Mendirikan tempat wudu dengan 8 pancuran yang melambangkan Asta Sunghika Marga (jalan berlipat delapan dalam Budha).
3. Tradisi Mitoni
• Dalam acara selamatan Mitoni, dibacakan kisah Nabi.

8. Sunan Muria (Raden Umar Said)
Ayah: Sunan Kalijaga
Ibu: Dewi Saroh
Pusat dakwah & makam: Gunung Muria, sekitar 18 km di utara Kudus

a. Wilayah dan Sasaran Dakwah
Sunan Muria berdakwah terutama di pedesaan Pulau Jawa, dengan sasaran utama:
1. Pedagang
2. Nelayan
3. Rakyat jelata
Ia lebih memilih berdakwah kepada masyarakat kecil dibandingkan kaum bangsawan.

b. Metode Dakwah
Dalam berdakwah, Sunan Muria menggunakan cara halus dan bijaksana, mengikuti metode ayahnya, diibaratkan seperti mengambil ikan tanpa membuat air keruh.
Ia tetap mempertahankan:
1. Wayang
2. Gamelan
3. sebagai media dakwah.

c. Karya Budaya
Sunan Muria menciptakan beberapa tembang Islami, di antaranya:
1. Sinom
2. Kinanthi
Ia juga mengisi berbagai tradisi Jawa dengan nilai-nilai Islam, seperti:
1. Nelung dino,
2. Mitung dino,
3. Ngatus dino, dan lainnya.

9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
Nama asli: Syarif Hidayatullah
Kedudukan: Walisongo, pendiri Kesultanan Cirebon dan perintis berdirinya Kesultanan Banten
Keturunan: Cucu Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi

a. Awal Dakwah
Setelah selesai menuntut ilmu pada tahun 1470, Syarif Hidayatullah kembali ke Jawa bersama ibunya dan disambut oleh Pangeran Cakra Buana. Ia kemudian menetap di daerah Gunung Jati dan mendirikan pesantren untuk meneruskan perjuangan gurunya, Syekh Datuk Latif.

b. Peran di Cirebon
Ia menikah dengan Nyi Pakung Wati, putri Pangeran Cakra Buana, lalu diangkat sebagai Pangeran Cirebon pada tahun 1479. Sejak itu, dakwah Islam dilakukan juga melalui jalur diplomasi dan pemerintahan.

c. Penyebaran Islam di Jawa Barat
Setelah Cirebon berdiri sebagai kerajaan Islam yang merdeka dari Pajajaran, Sunan Gunung Jati mengembangkan Islam ke berbagai wilayah Jawa Barat, seperti:
1. Majalengka
2. Kuningan
3. Kawali (Galuh)
4. Sunda Kelapa (Jakarta)
5. Banten

C. Peran Walisongo dalam Penyebaran dan Perkembangan Islam di Indonesia
Walisongo adalah dewan dakwah atau dewan mubaligh yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa, dengan dukungan Kesultanan Demak Bintoro. Keberhasilan mereka membuat Islam dianut oleh masyarakat Jawa di kota, desa, hingga pegunungan, sehingga Islam benar-benar mengakar.

a. Metode Dakwah Para wali:
1. Mendirikan masjid sebagai tempat ibadah dan pusat pendidikan.
2. Mengajarkan agama di serambi masjid dengan sistem gurukula, yaitu guru mengajar murid secara langsung dalam kelompok kecil.
3. Selain iman dan ibadah, mereka juga mengajarkan akhlak, kanuragan, bela diri, dan kekebalan.

b. Perubahan Budaya
Masa Walisongo menandai berakhirnya dominasi budaya Hindu-Budha dan munculnya kebudayaan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa.

c. Fungsi Walisongo
Walisongo memiliki peran sebagai:
1. Pelopor penyebaran Islam di daerah-daerah.
2. Pejuang yang gigih membela dan mengembangkan Islam.
3. Ulama ahli agama yang menguasai ajaran Islam.
4. Orang saleh yang dekat kepada Allah karena rajin beribadah.
5. Pemimpin agama dengan banyak pengikut.
6. Guru yang tekun mendidik murid-muridnya.
7. Kiai yang menguasai ilmu agama secara luas.
8. Tokoh masyarakat yang sangat disegani.

Posting Komentar

Pilihan Editor

Hendrii · aishwa nahla