BAB V
KEUTAMAAN ILMU
A. Keutamaan Orang yang Menuntut Ilmu
1. Bunyi hadits dan terjemahnya
Artinya :
Sunan Tirmidzi 2571: Telah bercerita kepada kami Nahsr bin Ali dia berkata: telah bercerita kepada kami Khalid bin Yazid Al Ataki dari Abu Ja'far Ar Razi dari Ar Rabi' bin Anas dari Anas bin Malik dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa keluar dalam rangka menuntut ilmu maka dia berada di jalan Allah sampai dia kembali." Abu Isa berkata: 'Hadits ini hasan gharib, sebagian perawi telah meriwayatkannya namun tidak merafa'kannya.' [H.R. Tirmidzi]
2. Makna hadits
Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang keluar untuk menuntut ilmu dengan niat yang ikhlas karena Allah dianggap berada di jalan Allah sejak ia berangkat hingga kembali. Menuntut ilmu memiliki kedudukan dan pahala yang sangat besar, bahkan disamakan dengan jihad di jalan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat memuliakan ilmu dan orang yang mencarinya.
B. Keutamaan Orang yang Berilmu
1. Bunyi hadits dan terjemahnya
Artinya :
Sunan Abu Daud 3157: Telah menceritakan kepada kami Musaddad bin Musarhad telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Daud aku mendengar 'Ashim bin Raja bin Haiwah menceritakan dari Daud bin Jamil dari Katsir bin Qais ia berkata: Aku pernah duduk bersama Abu Ad Darda di masjid Damaskus, lalu datanglah seorang laki-laki kepadanya dan berkata, Wahai Abu Ad Darda, sesungguhnya aku datang kepadamu dari kota Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena sebuah hadits yang sampai kepadaku bahwa engkau meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan tidaklah aku datang kecuali untuk itu. Abu Ad Darda lalu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudah jalannya ke surga. Sungguh, para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridlaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut. Kelebihan seorang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak." Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Wazir Ad Dimasyqi telah menceritakan kepada kami Al Walid ia berkata: aku berjumpa dengan Syabib bin Syaibah lalu ia menceritakannya kepadaku dari Utsman bin Abu Saudah dari Abu Ad Darda dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan maknanya. [H.R. Abu Daud]
2. Makna hadits
Hadits ini menerangkan keutamaan menuntut ilmu dan kedudukan para ulama. Orang yang menempuh jalan untuk mencari ilmu akan dimudahkan jalannya menuju surga oleh Allah. Penuntut ilmu dimuliakan hingga malaikat meridhainya, dan seluruh makhluk di langit dan di bumi mendoakannya. Kedudukan orang berilmu lebih tinggi daripada ahli ibadah, seperti cahaya bulan purnama yang mengalahkan bintang-bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, karena nabi tidak mewariskan harta, melainkan ilmu. Siapa yang mengambil ilmu, maka ia memperoleh kebaikan dan bagian yang sangat besar.
C. Perintah Menuntut Ilmu
1. Bunyi hadits dan terjemahnya
Artinya :
Sunan Ibnu Majah 220: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar berkata: telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Sulaiman berkata: telah menceritakan kepada kami Katsir bin Syinzhir dari Muhammad bin Sirin dari Anas bin Malik ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dan orang yang meletakkan ilmu bukan pada ahlinya, seperti seorang yang mengalungkan mutiara, intan dan emas ke leher babi." [H.R. Ibnu Majah]
2. Makna hadits
Hadits ini menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim, terutama ilmu agama yang menjadi pedoman hidup. Selain itu, hadits ini mengingatkan agar ilmu diberikan kepada orang yang tepat dan digunakan dengan benar. Menyampaikan ilmu kepada orang yang tidak menghargainya atau menyalahgunakannya diibaratkan seperti memberi perhiasan berharga kepada babi, yaitu sia-sia dan tidak bernilai.
D. Contoh Perilaku Haus akan Ilmu
1. Rajin belajar dan tidak cepat puas dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.
2. Bertanya dengan sopan kepada guru atau orang yang lebih paham ketika belum mengerti.
3. Membaca buku atau sumber ilmu lainnya secara rutin.
4. Mengikuti majelis ilmu, kajian, atau pelatihan untuk menambah wawasan.
5. Mencatat pelajaran agar ilmu mudah dipahami dan diingat.
6. Mencari sumber yang benar dan terpercaya dalam belajar.
7. Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
8. Mengajarkan kembali ilmu yang dimiliki kepada orang lain dengan niat yang baik.
E. Contoh Perilaku Menghargai Ilmu dan Ahli Ilmu
1. Bersikap sopan dan hormat kepada guru dan ulama, baik dalam perkataan maupun perbuatan.
2. Mendengarkan penjelasan dengan penuh perhatian dan tidak memotong pembicaraan saat belajar.
3. Mengamalkan ilmu yang telah diajarkan dalam kehidupan sehari-hari.
4. Menjaga adab saat menuntut ilmu, seperti berpakaian rapi dan datang tepat waktu.
5. Tidak meremehkan nasihat dan pendapat orang berilmu.
6. Mendoakan guru dan ulama agar diberi kesehatan dan keberkahan ilmu.
7. Menjaga nama baik guru dan lembaga ilmu.
8. Menghargai karya ilmiah, seperti buku dan tulisan, serta tidak merusaknya.



